logo


Bahasa dan Tindak Kekerasan di Mimbar Masjid

Berikut penjelasanya
1328 View

Bahasa dan Tindak Kekerasan di Mimbar Masjid
Ilustrasi Tajuklombok.Com

TAJUKLOMBOK.COM - Belakangan tindakan mengkafir-kafirkan orang lain kian populer terdengar. Ujaran seperti ini bukan saja terlontar saat demonstrasi akan tetapi di sudut-sudut kampus, bahkan mimbar masjid sekalipun tak luput dari ujaran tersebut .

Tuduhan gegabah yang disematkan terhadap orang lain kebanyakan di timbulkan oleh sebab beda pandangan, sempitnya pola pikir kemudian merasa paling benar hingga kemudian perkataan senonoh terlempar. Akibatnya perpecahan di kalangan masyarakat bawah tidak bisa terhindarkan. Hal semacam ini membuat Islam sebagai agama rahmatan lil alamin tercoreng oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.  Tindakan ini membuat orang-orang justru semakin tidak simpati  

Bisakah Islam diterima manakala yang ditampakkan adalah amarah dan kebencian?

Tulisan ini sebenarnya tidak akan jauh masuk ke sana, karena yang ingin dijabarkan adalah kaitan antara bahasa dan praktik kekerasan, khususnya di ruang-ruang ibadah. Dalam kehidupan sehari-hari,  kita sudah begitu akrab dengan istilah-istilah ‘kafir’, ‘thogut’, ‘murtad’, ‘sesat’, dan masih banyak lagi istilah sejenis. Penggunaan istilah itu untuk menggambarkan orang lain, tidak jarang diikuti oleh perilaku kekerasan atau aksi terorisme yang merenggut banyak nyawa. Ini menunjukkan bahwa penggunaan istilah tersebut, dalam konteks yang lebih luas ialah bahasa, berkorelasi dengan perilaku kekerasan atau teror seperti yang kita pahami selama ini.

Galtung dalam Jurnal of Peace Research (1990) pernah menulis tentang beberapa macam kekerasan. Dia menggolongkan kekerasan ke dalam tiga bentuk, antara lain kekerasan langsung (direct violence), kekersan struktural (structural violence), dan kekerasan budaya (cultural violence). Kekerasan langsung dimaknai sebagai bentuk tindakan menyakiti seseorang dengan menyentuh atau melukai fisiknya. Jadi terdapat kontak fisik secara langsung antara pelaku kekerasan dan korban, baik menggunakan anggota tubuh atau benda tertentu. Aksi teror yang banyak terjadi adalah salah satu contoh dari model kekerasan ini. Selanjutnya adalah kekerasan struktural yang dapat dimaknai sebagai bentuk tindakan membatasi ruang gerak seseorang. Misalnya, pimpinan perguruan tinggi menggunakan kekuasaan dengan sewenang-wenang mengeluarkan seorang mahasiswa karena ia terlanjur kritis.

Kekerasan kultural sendiri dimaknai sebagai segala bentuk produksi simbol dalam kehidupan yang dapat menjastifikasi atau melegitimasi dua bentuk kekerasan terdahulu. Kekersan kultural menurut Galtung wujudnya beragam. Di antaranya adalah ideologi, agama, seni, bahasa, dan lain sebagainya. Bahasa memainkan peran yang sangat strategis dalam hal kekerasan kultural. Bahasa membentuk kesadaran manusia dan begitupun sebaliknya bahasa manusia merupakan perpanjangan dari kesadarannya sendiri. Oleh sebab itu munculnya tuduhan ‘kafir’, ‘thogut’, ‘sesat’, dan lain-lain timbul dari pemahaman terhadap orang lain. Akan tetapi istilah-istilah itu juga dapat menciptakan imaji. Imaji tendang orang lain yang tidak menjalankan tuntunan Tuhan, bahkan anggapan bahwa orang lain telah keluar dari jalan yang diajarkan Tuhan. Dalam hal inilah kekerasan bahasa atau kekerasan linguistik menemukan bentuknya.

Pemahaman mengenai kekerasan linguistik sesungguhnya beragam. Selama ini banyak dipahami sebagai tindakan merendahkan orang lain secara verbal. Maksudnya dengan melontarkan kata-kata yang dianggap kasar, seperti mencaci atau merundung. Pemahaman semacam itu tidak dapat disalahkan, sebab komunikan secara fisik dapat merasakan efeknya. Selain itu, dapat berpengaruh besar pada kondisi psikis seseorang, seperti rasa minder, sedih, depresi, dan lain-lain.

Bagaimana dengan kekerasan linguistik dalam pemaknaan Galtung? Jika merujuk pada definisi yang diutarakan olehnya, kekerasan linguistik (bagian dari kekerasan budaya) bekerja dengan cara yang agak berbeda. Seperti disebutkan sebelumnya, ia bekerja melalui jastifikasi dan legitimasi, mengundang atau membenarkan tindakan kekersan terhadap individu, kelompok, atau institusi tertentu. Justifikasi atau legitimasi tersebut selanjutnya dapat bekerja dalam bentuk stereotipikal, seperti menggambarkan orang lain dengan sebutan ‘kafir’, ‘thogut’, ‘sesat’, anti-Islam’, bahkan ‘PKI’, atau dapat juga berupa narasi yang berhadap-hadapan. Timur dihadapkan dengan barat, demokrasi dihadapkan dengan khilafah, atau Islam dihadapkan dengan antiIslam. Narasi itu kemudian disusul dengan pemahaman hitam dan putih, seperti Barat buruk dan Timur baik atau demokrasi sesat dan khilafah benar.

Baik stereotipikal maupun narasi berhadap-hadapan yang dikonstruksi itu dapat membenarkan atau mengundang tindakan kekerasan terhadap orang lain. Tulisan Prof. Sumanto Al Qurtuby di salah satu media online beberapa waktu lalu menyebut beberapa tindakan teror yang dilakukan kelompok ekstirimis, seperti Hizbut Tahrir (HT),  di berbagai belahan dunia. Dia mencantumkan beberapa studi yang dapat dirujuk, antara lain Daniel Ruder (Long War in Central Asia: Hizb-ut-Tahrir’s Caliphate), Franco Burgio (Islamist Movements in Uzbekistan), atau Zeyno Baran (Hizb ut-Tahrir Islam’s Political Insurgency). Deretan hasil itu menegaskan bahwa, HT sangat dekat dengan aksi terorisme. Dengan kata lain gaya dakwah HT/HTI yang cenderung provokatif dengan menyebut pihak lain sebagai ‘kafir’, ‘thogut’, ‘antiIslam’, dan lain-lain sangat berkorelasi dengan perilaku teror yang ditunjukkan dalam beberapa studi di atas.

Galthung memang menyebut jika kekerasan kultural dalam hal ini kekerasan linguistik yang menjadi bagian di dalamnya dapat menciptakan kesan bahwa aksi teror yang dilakukan merupakan tindakan yang benar atau paling tidak merupakan sebuah kewajaran. Selama ini kalangan ekstrimis memahami jika perbuatan teror adalah jihad yang dilakukan di jalan Tuhan. Dan siapa yang melakukan imbalannya adalah surga, meskipun harus mengorbankan banyak nyawa tak bersalah bahkan dari kalangan umat Islam sendiri. Jika ditilik dari sudut pandang ini, kelompok ekstrimis seperti HT/HTI tidak saja telah melakukan kekerasan dalam arti langsung, melainkan juga kekerasan kultural/linguistik yang dilakukan dalam banyak wacana yang diproduksi, baik melalui mimbar masjid maupun media cetak. Jika kekerasan linguistik ini berkorelasi kuat dengan kekerasan langsung yang banyak terjadi, maka saya kira pantas kita menyebut kalau secara tidak langsung pula mimbar masjid maupun ruang-ruang ibadah lainnya telah ikut juga dikotori dengan aliran darah. Maka mimbar masjid yang seharusnya sebagai tempat memupuk dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan justru secara tidak langsung menjadi altar pertumpahan darah manusia.

Dengan demikian, berbahasa harus didasari atas prinsip kehati-hatian. Karena mengambil kesimpulan dan menggabarkan orang lain dengan tergesa-gesa dapat berakibat fatal, bukan hanya dampak psikis, tetapi juga dapat menjelma menjadi kekerasan struktural maupun kekerasan langsung yang merenggut nyawa orang lain, seperti telah dideskripsikan. Apakah kekerasan kultural/linguistik hanya terjadi dalam kasus di atas?  Tidak. Kekerasan kultural/linguistik dapat terjadi kepada siapapun dan oleh siapapun bahkan oleh negara sekalipun. Ironisnya, banyak kasus yang dapat membuktikan bagaiman negara telah melakukan tindakan kekerasan kultural dalam banyak hal. Bahasa kemudian menjadi sangat ideologis. Banyak kepentingan bersemayam di baliknya.

Penulis : Moh. Zalhairi
Mahasiswa Jurusan Linguistik, UNS