logo


Bangun Kesadaran, PT.Sampoerna Cegah Eksploitasi anak dalam produksi tembako

Berikut penjelasanya
880 View

Bangun Kesadaran, PT.Sampoerna Cegah Eksploitasi anak dalam produksi tembako

TAJUKLOMBOK.COM - Kali ini ini PT. Sampoerna meletakkan komitmen untuk mencegah dan meminimalisir pekerja anak dalam perkebunan dan pengelolaan tembakau. Melalui Rumah pintar yang bekerja sama dengan Lembaga TRANSFORM. Rumah Pintar sendiri merupakan satu program layanan bagi anak-anak usia 7-18 tahun (SD-SMA) dengan kegiatan yang bersifat Edukatif, kegiatan Rumah pintar juga selaras dengan program pemerintah untuk mencapai "Indonesia bebas pekerja anak 2022" Melalui Pegelaran Festival Rumah pintar yang berlangsung (kamis 27/12/2018) di Desa Sakra Kec.Sakra kab. Lombok Timur di harapkan sebagai motivasi anak untuk terus melakukan kegiatan-kegiatan positif, kegiatan Festival ini di ikuti oleh 14 Desa peseta. Dalam pegelaran Festival setiap Rumpin mencoba menampilakan atraksi-atraksi yang di dapat selama melakukan pendidikan pengembangan, selain itu pameran hasil karya juga tidak kalah menarik. Kegiatan Festival Rumah pintar tersebut merupakan puncak dari kegiatan PT. HM Sampoerna selama tahun 2018. Kegiatan yang mengusung semangat untuk lebih memperhatikan anak-anak untuk berkegiatan sesuai dengan umur tanpa eksploitas kedalam ruang kerja sudah di lakukan dari tahun 2016 sampai dengan 2018 tahun ini. Tercatat dalam 3 tahun terkahir terdapat 22 Rumah pintar di wilayah NTB . dari jumlah tersebut 8 Rumah pintar berkoalisi dengan KPI dan 14 Rumah pintar ber koalisi dengan lembaga TRANFORM, dengan harapan program ini dapat memberikan motivasi anak-anak untuk secara aktif serta menjauhkan mereka dari aktivitas di ladang tembakau. Lebih lanjut pimpinan TRANSFORM Suyono menegaskan "selain ditujukan untuk mengurangi keterlibatan anak-anak di pertanian di tembakau, kegiatan ini juga berupaya untuk mengembangkan minat dan bakat mereka. Selain itu rumah pintar juga sebagai ruang untuk saling berbagi pengalam, tukar pengetahuan dan informasi bagi anak-anak, tutor dan civitas lainnya. Berdasarkan data lembaga Trnasform, Program Rumah Pintar telah menjadi tempat bermain dan belajar bagi 7.037 anak atau sekitar 74 persen dari total jumlah anak-anak di 14 desa. Desa yang di pilih untuk lokasi program Rumah pintar adalah desa penghasil tembakau, seperti Desa Pademare, Stanggor, Jantuk, Kabar, Rumbuk, Sukadana, Montong baan, Sakra selatan, Gelanggang, Bungtiang, Senyiur, Batu putek, Sepapan dan Jerowaru dengan melibatkan 163 orang warga setempat sebagai Fasilitator lapangan, pengelola dan mentor Dalam kegiatan acara puncak tersebut diisi dengan pameran-pameran hasil karya anak selama menempuh pendidikan non formal di Rumah pintar, kebudayaan juga termasuk sebagai materi yang di ajarkan baik tari tradisional, pencak silat, pidato bahasa inggris dan lainnya . semua peserta didik unjuk kebolehan di pameran tersebut Terang Kepala Dinas pendidikan dan kebudayaan Lalu Suwandi "tentu dengan kegiatan ini kami selaku pemerintah merasa sangat terbantu, karna walau bagaimanapun semangat untuk menekan angka pekerja anak meski kita godok terus, sampai pada titik angka terkecil. Karna apapun alasannya melibatkan anak dalam kegiatan berladang tetap saja termasuk dalam " EKSPLOITASI". walau alasan orang tua dari anak tersebut hanya membantu. Anak itu harus berkegiatan sesuai dengan umur mereka...meski tidak di upah tetap itu termasuk eksploitasi.. Namun memang keadaan ini dari beberapa kelompok masyarakat belum pada kontek sependapat, pemahaman petani cukup berbeda dengan apa yang di ungkapkan kadis pendidikan dan kebudayaan. " Sebenarnya kami tidak mempekerjakan anak, mereka hanya membatu dan tidak berlangsung lama, tidak ada pemaksaan. Ungkap petani yang tidak mau di sebutkan namanya. Dalam satu sisi lainnya, jikalau mereka bekerja itu dengan kemauan mereka sendiri, entah dengan alasan uang jajan, beli buku atau mainan. Saya rasa ini masih dalam kontek normal saja. Harapan kami sebagai petani katagori Eksploitas itu harus di perjelas. Jangan sampai semua petani yang di bantu anaknya di katakan Eksploitasi. Karna ketakutan kami hal semacam ini akan mengganggu ruang/hubungan antara anak dan orang tua (tl_Ayat)