logo


Belum usai Pandemi Covid-19, Virus Hanta Menghantui

Berikut penjelasanya
439 View

Belum usai Pandemi Covid-19, Virus Hanta Menghantui
Ilustrasi_doc. Tempo.co

TAJUKLOMBOK. COM - Belum usai pandemi corona, muncul pembicaraan warganet tentang virus hanta di media sosial. Kehebohan virus ini bermula dari laporan di Global Times yang mengatakan bahwa seorang pria dari provinsi Yunnan di Cina meninggal karena virus hanta di dalam bus ketika menuju ke provinsi Shandong.

Dilansir dari www.cdc.gov, virus ini menyebar terutama dari tikus. Virus hanta di Amerika dikenal sebagai virus hanta "Dunia Baru" dan dapat menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome (HPS).

Mengutip laman Wikipedia, Hanta virus adalah genus virus dari familia Bunyaviridae yang menyebabkan penyakit sindrom paru virus hanta (hantavirus pulmonary syndrome). Virus ini berbentuk sferis dengan diameter 100 nm. Pada bagian luar strukturnya, terdapat selubung virus dan di dalamnya dilapisis dengan membran bilayer. Genomnya terdiri dari 6550 nukleotida yang mengkodekan enzim transkriptase virus, nukleokapsid, dan glikoprotein virus. Virus ini mudah diinaktivasi dengan panas, detergen, pelarut organik, dan larutan hipklorit. ini banyak terdapat pada hewan hewan pengerat seperti tikus, mencit, Lemmus lemmus (lemming). besar virus ini ditransmisikan melalui inhalasi kotoran hewan pengerat yang terinfeksi virus hanta.  Manusia sebagai inang dapat terinfeksi virus ini apabila melakukan kontak dengan hewan pengerat dan kotorannya. (Wikipedia).

Gejala awal HPS termasuk kelelahan, demam, dan nyeri otot, terutama pada otot besar yakni, paha, pinggul, punggung, dan terkadang bahu. Gejala-gejala ini bersifat universal, di antaranya juga ada sakit kepala, pusing, kedinginan, dan masalah perut, seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut.

Sekitar setengah dari semua pasien HPS mengalami gejala-gejala ini. HPS bisa berakibat fatal dengan tingkat kematian 38 persen.

Hantavirus lainnya, yang dikenal sebagai hantavirus "Dunia Lama", kebanyakan ditemukan di Eropa dan Asia dan dapat menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS).

Gejala awal HFRS dimulai secara tiba-tiba termasuk sakit kepala hebat, sakit punggung dan perut, demam, kedinginan, mual dan pandangan kabur.

Orang yang terkena HFRS juga terkadang memiliki tanda muka memerah, peradangan, kemerahan pada mata atau ruam. Gejala selanjutnya yakni tekanan darah rendah, syok akut, kebocoran pembuluh darah, dan gagal ginjal akut, yang dapat menyebabkan kelebihan cairan.

Tingkat keparahan penyakit bervariasi tergantung pada virus yang menyebabkan infeksi. Infeksi virus Hantaan dan Dobrava biasanya menyebabkan gejala yang parah, sedangkan infeksi virus Seoul, Saaremaa, dan Puumala biasanya lebih moderat. Pemulihan total bisa memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Kasus virus hanta datang pada saat jumlah total orang yang terinfeksi oleh virus corona baru secara global sudah mendekati angka 400 ribu dan para ilmuwan belum menemukan obat untuk itu. Korban kematian global telah melampaui angka 16.500, dikutip dari www.economictimes.com.

Seorang pakar saraf, Sumaiya Shaikh, dalam cuitannya di Twitter Selasa, 24 Maret 2020, menulis bahwa virus hanta pertama kali muncul pada tahun 1950 dalam perang Amerika-Korea di Korea (sungai Hantan).

Virus ini menyebar dari tikus jika manusia mencerna cairan tubuh mereka. Penularan manusia-manusia jarang terjadi. Bahkan ada vaksin yang dikembangkan untuk itu. Sumaiya mengimbau masyarakat agar tidak panik, kecuali memang Anda berencana untuk mengkonsumi tikus. (TEMPO.CO/TL/Red).

Editor : Amaq Auliya

Bini sudah tayang di TEMPO.CO dengan judul "Virus Hanta Hebohkan Warganet di Tengah Pademi Corona, Apa Itu?"