logo


Cegah Degradasi Budaya, ASN Lotim Diwajibkan Mengenakan Pakaian Adat Sasak

Berikut penjelasanya
Jumat, 25 Okt 2019, 10:32:19, 1248 View

Cegah Degradasi Budaya, ASN Lotim Diwajibkan Mengenakan Pakaian Adat Sasak
Bupati Lotim Sukiman Azmy_doc. FB

TAJUKLOMBOK. COM - Semakin berkembangnya teknologi ternyata berdampak pada meluasnya globalisasi. Hal itu menyebabkan sejumlah kearifan lokal yang sempat melekat di kehidupan masyarakat Indonesia kian pudar, bahkan nyaris punah. Ya, negara kita punya berbagai macam tradisi dan adat isitiadat yang diwariskan secara turun temurun dan wajib kita pelihara. Tapi sayang, beberapa di antara tradisi dan budaya yang kita miliki nampaknya kian tergerus oleh perkembangan zaman.

Khawatir dengan kondisi tersebut, Bupati Lombok Timur, HM Sukiman Azmy mengeluarkan Surat Keputusan (SK) tentang aturan penggunaan pakaian adat bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) sejak 17 Oktober 2019 lalu.

“Aturan ini hanya untuk hari Kamis. Kalau Senin sampai Rabu itu normatif, Jumat dan Sabtu bebas,” ujar Bupati.

Dikatakannya, dalam SK Bupati Lombok Timur Nomor : 188.45/529/ORG/ 2019 tentang Pakaian Dinas Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur ini mengatur beberapa elemen. Mulai dari ASN, pegawai BUMN, pegawai BUMD, Kadus hingga para pendidik.

“Kalau pendidik itu harus pakai setiap Kamis. Nah, kalau siswanya tidak semua. Hanya beberapa sekolah kemarin yang menjadi contoh,” kata Sukiman.

Mengenai seperti apa nantinya pakaian adat yang wajib dikenakan, bupati menjelaskan sebatas sarung, bebet atau dodot, sedangkan untuk ikat kepala (sapuk bahasa Sasak:red) boleh diganti dengan songkok dan bagi wanita mengenakan lambung.

“Jadi yang wajib itu hanya sarung, dodot atau bebet. Kalau sapuq itu bisa tidak, bisa juga pakai kopiah. Khusus ibu-ibu itu pakai lambung, bukan kebaya.” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pariwisata Islam Indonesia (APII), TGH Fauzan Zakaria, Lc, M.Si, menyambut baik aturan tersebut. Menurut pria kelahiran 1981 itu, Lombok Timur sangat tepat menetapkan kebijakan tersebut. Hal tersebut dapat menonjolkan kearifan lokal (Local Wisdom).

“Ini juga juga dapat mendongkrak perekonomian masyarakat, khususnya bagi pengerajin lambung, songket dan pakaian adat secara umum,” ujarnya bangga.

Untuk diketahui, Kearifan berasal dari kata arif. Arif memiliki dua arti, yaitu tahu atau mengetahui. Arti kedua cerdik, pandai dan bijaksana. (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Kata arif yang jika ditambah awalan “ke” dan akhiran “an” menjadi kearifan berarti kebijaksanaan, kecendekiaan sebagai sesuatu yang dibutuhkan dalam berinteraksi. Melayani orang, adalah orang yang mempunyai sifat ilmu yaitu netral, jujur dan tidak mempunyai kepentingan antara, melainkan semata-mata didasarkan atas nilai-nilai budaya dan kebenaran sesuai ruang lingkupnya.

Kata lokal, yang berarti tempat atau pada suatu tempat atau pada suatu tempat tumbuh, terdapat, hidup sesuatu yang mungkin berbeda dengan tempat lain atau terdapat di suatu tempat yang bernilai yang mungkin berlaku setempat atau mungkin juga berlaku universal (Muin Fahmal, 2006).

Kearifan lokal diartikan sebagai “kearifan dalam kebudayaan tradisional” suku-suku bangsa.

Kearifan dalam arti luas tidak hanya berupa norma-norma dan nilai-nilai budaya, melainkan juga segala unsur gagasan, termasuk yang berimplikasi pada teknologi, penanganan kesehatan, dan estetika. Dengan pengertian tersebut maka yang termasuk sebagai penjabaran “kearifan lokal” adalah berbagai pola tindakan dan hasil budaya materialnya.

Dalam arti yang luas itu maka diartikan, “kearifan lokal” itu terjabar dalam seluruh warisan budaya, baik yang tangible maupun yang intangible (Edy Sedyawati, 2006).

Wacana seputar local wisdoms atau kearifan lokal, biasanya selalu disandingkan dengan wacana perubahan, modernisasi, dan relevansinya. Hal ini bisa dimaklumi sebab wacana diseputar kearifan lokal pada prinsipnya berangkat dari asumsi yang mendasar bahwa, nilai-nilai asli, ekspresi-ekspresi kebudayaan asli dalam konteks geografis dan kultural dituntut untuk mampu mengekspresikan dirinya ditengah-tengah perubahan. Pada sisi lain ekspresi kearifan lokal tersebut juga dituntut untuk mampu merespons perubahan-perubahan nilai dan masyarakat.

Kearifan lokal itu tidak ingin hilang dari peredaran nilai sebuah masyarakat. Kearifan lokal didefinisikan sebagai kebijaksanaan atau nilai- nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan-kekayaan budaya lokal seperti tradisi, petatah-petitih dan semboyan hidup (Nasiwan, dkk, 2012).

Kearifan lokal adalah kebenaran yang telah mentradisi atau ajeg dalam suatu daerah. Kearifan lokal memiliki kandungan nilai kehidupan yang tinggi dan layak terus digali, dikembangkan, serta dilestarikan sebagai antitesis atau perubahan sosial budaya dan modernisasi. (TL/Red).