logo


Ceramah di Malaysia, TGB Dipanggil Buya Hamka

Berikut penjelasanya
Sabtu, 30 Nov 2019, 07:50:25, 419 View

Ceramah di Malaysia, TGB Dipanggil Buya Hamka
TGB DR. KH. M. Zainul Majdi MA_doc. NWMC

TAJUKLOMBOK. COM - Persatuan Masyarakat Indonesia (Permai) Utara, Malaysia menggelar Maulid Nabi Muhammad di Masjid Jamek Alma Jaya, Bukit Mertajam. Hadir sebagai penceramah ulama asal Indonesia, TGB HM Zainul Majdi.

Melansir NW Media Center, Tuan Haji Ilyas Jawatan Kuasa Masjid Jamek Alma Jaya menuturkan, mendukung program keagamaan. Kegiatan yang digelar oleh Permai Utara Malaysia sedari awal didukung penuh.

"Program yang bersifat keagamaan dialu-alukan diadakan disini. Yang penting dimaklumkan di awal," katanya, Jumat (29/11)

Sementara itu Ketua Dewan Agama Permai Utara Malaysia Jazuri begitu gembira menyaksikan warga Indonesia di Malaysia berkumpul hadir dalam acara maulid. Acara Permai Utara Malaysia didukung oleh Jamiyyah Riyadhus Shalihin. 

"Kami para pekerja, baik pekerja bangunan, pekerja warung, pekerja ladang mencintai Tuan Guru Bajang. Sudah cukup lama kami nanti-nantikan Tuan Guru datang kesini," ucapnya.

Beberapa tahun lalu, Permai Utara Malaysia sempat juga mengundang TGB. Hanya saja saat itu jadwal kegiatan TGB cukup padat. Anggota Permai Utara Malaysia mencatat, dahulu ada ulama asal Nusantara yang begitu dikenal di tanah Melayu, masyarakat mengenalnya dengan Buya Hamka. Ulama asal Sumatera ini pernah mendapat gelar honoris causa dari Universitas Al Azhar. 

"Saat ini ditengah kita hadir doktor alumni Al Azhar juga. Namanya dikenal luas, sering kita saksikan di youtube ataupun media sosial," urainya.

"Tuan Guru Bajang ini adalah Buya Hamka mudanya Indonesia," sambungnya.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad mengambil tema, Kita Tingkatkan Keteladanan Kepada Rasulullah dalam Membangun Masyarakat Madani. Ceramah TGB membahas beberapa banyak hal, khususnya mengenai keteladanan kepada Nabi Muhammad.

Diakui TGB, saat rasul masih hidup, tak pernah ada acara maulid. Kemudian ulama bersepakat tidak melarang adanya maulid. Diantara jalan menyegarkan ingatan akan rasul dengan memperingati maulid nabi.

"Rasul begitu cinta kepada kita. Sampai nabi mengatakan, saya kepada kalian seperti ayah," kata TGB.

"Kita ini anak semua  anak nabi. Semua doa kepada rasul mendapat keberkahannya. Semua rasa cinta akan kembali kepada kita," sambungnya.

Nabi Muhammad, urai TGB, tak pernah memisahkan kehidupannya dari umat. Selalu ada aktivitas yang bersinggungan dengan umat. Sebagaimana tertuang dalam Alquran, laqodjaakum rasuulum min anfusikum aziizun alaihi ma anittum kharisun alaikum bil mukminiina roufurrahiim. Hal ini pula yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah dengan berjualan buku ditengah umat. Begitu pula para ulama yang membangun Indonesia, mereka bukan orang suci yang memilih menyendiri. 

"Di dalam Islam salah satu ciri muslim yang baik sanggup menjadi bagian dari masyarakat," jelasnya.

Ketika Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, lanjut TGB, langkah yang kemudian dilakukan oleh nabi dengan membangun masjid. Hal ini dilakukan supaya peradaban di bumi menyambung dengan langit supaya diberkahi. Berikutnya membangun pasar, saat itu bukan berarti di Madinah tak ada pasar. Saat itu telah ada pasar,  namun isinya tak baik. Kemudian dibangunlah pasar yang baik dan sesuai dengan ajaran Islam.

"Bukti Islam tak hanya mengejar kehebatan di akhirat namun juga dunia," imbuhnya.

Kepada jamaah, TGB mengingatkan, tak malu warga Indonesia maupun Malaysia mencari hal yang halal dan baik selama mencarinya dengan baik. 

"Warga Indonesia yang ada di Malaysia harus bisa menampilkan kebaikan. Dengan begitu saudara dari Malaysia akan tertarik ke Indonesia," pesannya.

Lebih lanjut, setelah membangun masjid dan pasar, kemudian nabi mempersaudarakan Muhajirin dan Ansar. Kedua suku ini memiliki perbedaan karakter, dari Makkah lebih tegas. Madinah lebih lembut namun jago bercocok tanam. 

"Mereka ini kemudian dipersatukan oleh nabi," tukasnya. (NWMC/TL/Red).

Editor : Amaq Auliya