logo


Cerita Sukses Pedagang Muda Mandiri

Berikut penjelasanya
41 View

Cerita Sukses Pedagang Muda Mandiri

TAJUKLOMBOK. COM - Nama beliau adalah Sohibul Muaz, dia akrab dengan sebutan Kang Sohib 97, beliau lahir di Dusun Jerneng Desa Terong Tawah Kecamatan Labuapi Kabupaten Lombok Barat pada tanggal 8 Februari 1997.

Ust. Sohibul Muaz menempuh pendidikan sekolah dasar di SDN 2 Terong Tawah tamat tahun 2010, setelah itu iapun nyantri di Ponpes Abhariyah yang lokasinya cukup dekat dengan kediamannya.

Tak tanggung-tanggung, dari jejang SMP, SMA bahkan perguruan tinggi ia tempuh ditempat yang sama, yaitu DARUL FALAH yang sering di kenal dengan STISDAFA. 

Sohibul Muaz atau Kang Sohib adalah anak ke 2 dari 3 bersaudara, Najmul Hadi sebagai yang tertua dan si bungsu Makripatul Aripin, mereka lahir dari pasangan Muliati dari Jerneng dan Sahrudin asal Kuranji. 

Kang Sohib merintis jualan kecil-kecilannya pada waktu tamat dari SMA dengan usia yang masih terbilang muda, ia begitu berani mencoba untuk jualan.

Motivasi baliau untuk jualan di pondok adalah yang pertama beliau merasa gak enak hati sama orang tua kalau setiap hari harus minta uang untuk kebutuhan sehari-hari nya belum lagi biaya untuk kuliah, yang kedua untuk mengisi kekosongan di tengah padatnya kegiatan pondok, karena selain nyantri ia kerap diminta mendidik santri yang masih baru, disamping itu ia juga aktif menjadi tutor Hadroh. 

"Alhamdulillah sekarang saya banyak ngajar Hadrah dari Lombok Barat, Lombok Tengah hingga Lombok Utara," tuturnya. 

Ustadz Muaz jualan berbagai macam atribut ibadah seperti baju muslim, sarung, sorban, peci, koka, farfum dan lain-lain yang ia pesan langsung lewat aplikasi shoope di Pekalongan.

"Pihak pondok tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena saya tidak menggunakan bangunan/lahan milik pondok, saya taruh dagangan dalam lemari, dan sebagian dirumah karena jaraknya dekat," ujarnya.

Dikatakannya, kelebihan barang saya adalah yang pertama barangnya lumayan murah  dari harga baju muslim  ada yang 70 sampai 100, kalau sarung dari harga 50 sampai 100 ribu. Sorban dari 50 sampai 120 ribu dan banyak lagi macam macam harga yang saya tawarkan, karena langsung dari tokonya di Pekalongan tenti berbagai macam warna dan model yang ditawarkan. 

Ia juga mengisahkan susah senang jadi pedagang. Tentu banyak sekali ya, saya seneng sekali jualan atribut ibadah karena setelah saya jualan khususnya santri-santri ini banyak sekarang memakai baju yang kekinian khas santri tulen.  

"Pokoknya kayak khas Jawa gitulah karena sebelum saya jualan fashion atau pakaian santri santri ini bisa di bilang kolotlah mereka cuman pakai baju polos semua gak ada variasi-variasinya," kisah Kang Sohib.

Dalam berjualan ia tak pernah memberatkan pembelinya, kalau ada santri membeli dengan menghutang ia kasih tanpa membatas-batasi kapan harus membayar. 

"Terkadang ada juga pembeli yang nakal dia menghutang tapi gak bayar bayar saya sangat mengerti keadaan mereka, biarkan sajalah mereka gak bayar itupun pasti di pakai ibadah  nanti pahalanya bisa ke saya juga," ujarnya.

Diakuinya, pendapatan jualan sehari itu tak menentu kadang ada yang beli kadang juga sepi. 

"Makanya cara saya jualan itu saya promosi lewat media online yaitu FB dan ig nama Facebook untuk jualan ini yaitu kang sohib fash," tandasnya. (TL/Red).

Oleh : Hamdani

Editor : Amaq Auliya