logo


Empat Ratus Enam Orang Bakal Rebut Kuota 104 Penyuluh Non PNS

Berikut penjelasanya
1114 View

Empat Ratus Enam Orang Bakal Rebut Kuota 104 Penyuluh Non PNS
Peserta tes tulis Penyuluh Non PNS Kemenag Loteng_Tajuklombok.com/istimewa

TAJUJLOMBOK. COM - Minat masyarakat untuk menjadi penyuluh agama Islam non pns di Kabupaten Lombok Tengah sangat tinggi. Hingga hari terakhir pendaftaran ditutup pada Jum'at, 29 November 2019, ada 447  pendaftar yang mengajukan surat lamaran beserta persyaratan lainnya di PTSP Kemenag Lombok Tengah.

Kasi Bimbingan Masyarakat Islam, H. Muzakir Hayyi, M.pdi selaku yang membidangi seleksi penerimaan penyuluh agama Islam non PNS mengatakan, bahwa animo masyarakat terhadap pendaftaran penyuluh non PNS ini tinggi karena banyak masyarakat yang ingin bergabung dengan Kementerian Agama.

“Penyuluh agama Islam Non PNS ini pekerjaannya adalah sama dengan penyuluh agama Islam PNS yang sudah dimiliki Kementerian Agama. Mereka akan ditempatkan di 12 KUA Kecamatan yang ada di Kabupaten Lombok Tengah. Mereka akan menjadi ustad/ustadzah yang merupakan kepanjangan tangan dari Pemerintah dalam membangun masyarakat di bidang non fisik,” kata Muzakkir saat dikonfirmasi disela tes tulis di MTsN Praya, Ahad (8/12/2019.

Ada 104 kuota Penyuluh Agama Islam non PNS untuk periode 2020 – 2024 dan yang lulus administrasi dan berhak mengikuti tes tulis berjumlah 406 peserta.

"Peserta yang 406 ini akan merebut jatah kuota yang 104", kata Kasubag TU H. Muliadi, M.Pd dalam sambutannya mewakili Bapak Kemenag Lombok Tengah Drs. H. Jalalussayuthi.

Tugas pokok Penyuluh agama, lanjut Muliadi, adalah melakukan dan mengembangkan kegiatan bimbingan atau penyuluhan agama dan pembangunan dalam bahasa agama dibawah Kasi Bimas Islam.

Lebih jauh ia menyebutkan tufoksi dari penyuluh itu seperti apa.

"Penyuluh perlu mengetahui empat fungsi utama yang melekat padanya. Pertama, penyuluh sebagai tempat memperoleh informasi berkenaan dengan kehidupan keagamaan. Kedua, sebagai soko guru yang mendidik umat sejalan dengan kitab suci masing-masing".

"Ketiga, advokatif yaitu penyuluh berperan untuk membela kelompok/umatnya dari sasaran ancaman dan gangguan".

"Keempat, penyuluh sebagai tempat bertanya, mengadu bagi umat untuk penyelesaian masalah. “Penyuluh harus memiliki kapasitas pengetahuan untuk memberikan solusi ketika ada masyarakat atau umat beragama yang mengadu,” tutup Muliadi. (TL/Red)

Editor : Amaq Auliya