logo


Faqih, Mahasiswa UNHAM Ciptakan Handsanitazer Otomatis

Berikut penjelasanya
4149 View

Faqih, Mahasiswa UNHAM Ciptakan Handsanitazer Otomatis
Dokpri

TAJUKLOMBOK. COM - Anda mungkin kerap mendengar kisah seorang anak menjadi pembuat masalah gara-gara orangtuanya bercerai. Istilah bekennya, anak-anak dari keluarga broken home. Perceraian orangtua memang seringkali membuat anak menjadi terlantar. 

Broken home adalah kurangnya rasa kasih sayang dan perhatian dari orang tua kepada anaknya, Sehingga mental si anak sendiri terpukul akan situasi tersebut. 

Perceraian orangtua memang sebuah kepahitan yang harus diterima oleh Mufaqqih Hasan, pemuda kelahiran 11 September 1999. Ia lahir di Dusun Pepao Tengah Desa Lekor Kecamatan Janapria. Ia  tercatat sebagai Mahasiswa Fakultas Tehnik UNHAM semester V, namun karena sejak 20 tahun silam ayah ibunya bercerai, iapun tak sanggup membayar tagihan yang dilayangkan pihak kampus meski masih tercatat sebagai mahasiswa aktif. Ia pun dengan sabar menerima kenyataan. Namun ia percaya bahwa Allah punya rencana baik untuknya. 

Karena, bukan sebuah kehidupan jika tidak ada bumbu di dalamnya. Saya masih ingat, ketika dulu ternyata ibu dan ayah harus bercerai cerita Faqih.

"Tidak ada yang bisa menggambarkan kesedihan yang saya rasakan. Dan di situ saya hanya bisa menangis. Karena bukan hal yang mudah mengetahui kalau mereka memilih berpisah. Entah apa yang membuat mereka mengambil keputusan itu. Sedih bukan main, di mana anak-anak lain tinggal di keluarga yang utuh namun saya tidak. Selama mereka berpisah, saya diasuh oleh bibik", tuturnya.

Namun, Subhanallah, Allah maha Adil dengan kesedihan yang menimpanya. Allah mengirimkan orangtua pengganti yang senantiasa merawatnya. Iya, mereka adalah saudara dari ibunya. Dialah yang merawat  semenjak orangtuanya bercerai. Mungkin tidak ada di keluarga lain, yang bisa ikhlas dan selalu merawat yang bukan anak kandungnya.

Sekali lagi, Allah dengan segala firman-Nya membuktikan “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” sesuai surat QS. Alam Nasyroh ayat 6. 

Meskipun dibesarkan bukan oleh seorang ibu kandung, namun baginya ia lebih dari ibu kandung. Jadi Faqih tidak pernah menyesal atas takdir yang dialaminya, karena Allah sudah menyusun rencana yang lebih baik. 

Alhamdulillah, pandangan anak yang mengalami broken home karena selalu bermasalah itu tidak terjadi kepadanya. 

"Walaupun sekarang banyak yang mengganggap anak broken home akan jadi sampah masyarakat, namun bagi saya itu hal yang bukan jadi penghalang karena saya harus memulai dari nol dengan kehidupan yang saya alami," tuturnya.

Kebanyakan, keharmonisan keluarga berbanding lurus dengan prestasi akademik anak di sekolah atau kampus. Kondisi keluarga yang broken home biasanya berdampak pada menurunnya nilai dan prestasi akademis anak.

Namun, anggapan tersebut berhasil dipatahkan oleh Mufaqqih Hasan. Mahasiswa S-1 Fakultas Tehnik UNHAM yang tak sanggup bayar SPP itu bertekad membalikkan anggapan miring masyarakat tentang dampak negatif keluarga broken home terhadap anak.

Bukan omong kosong, tekad Faqih pun dibuktikan lewat prestasi. Ditengah mewabahnya Pandemi Covid-19, ia berhasil menciptakan Handsanitazer otomatis.

"Saya tidak ada rencana untuk membuat alat handsanitazer otomatis itu. Karena awalnya hanya diminta membuat pengharum ruangan otomatis, kemudian itu yang saya kembangkan" jelasnya sembari tersenyum.

Menurut Faqih, keuletannya membaca buku-buku penunjang materi kuliah menjadi salah satu kunci dalam berinovasi. Dia merasa, penjelasan dari dosen di kelas akan terasa lebih sempurna jika didukung oleh buku-buku pustaka yang menjadi acuan mata kuliah tersebut.

Ia kemudian menceritakan bagaimana alat temuannya tersebut bisa bekerja, dengan alat sederhana terdiri dari Ardwino, Servo mini, Ultrasonik dan kabel jumper bisa memancarkan cairan hand sanitizer dari jarak 10 cm.

"Dengan adanya sensor jarak jauh, sudah bisa memancarkan cairan hand sanitizer dari jarak 10 cm," ucapnya.

Dengan adanya Pandemi Covid-19 ini, Faqih berharap inovasinya bisa bermanfaat bagi masyarakat hingga bisa memutus rantai penyebaran virus yang akrab dengan Corona ini.

Senada dengan Faqih, Indra selaku dosen pembimbingnya juga memberikan penjelasan bagaiman alat tersebut bekerja.

"Untuk hand cara kerjanya yaitu, jika didekatkan tangan sensor ultrasonik/sensor jarak akan merespon dan memberikan intruksi sistem kontrol untuk menggerakkan typo motor servo untuk bergerak secara mekanis yang akan menakan tombol sprayer. Jadi pada saat tangan didekatkan otomatis sprayer akan mnyemprotkan cairan disinfektan", jelas Indra melalui pesan singkat Watshapps, Selasa (7/4).

Dikatakannya, jika mahasiswanya tersebut rajin dan mampu berinovasi.

"Oh iyaya, Mufaqih, kebetulan mahasiswa saya dia, kebetulan saya bimbing adik membuat bilik disinfektan kemarin, kebetulan ada karya mahasiswa juga hand sanitizer ini, anaknya rajin punya kemampuan inovasi", ujarnya.

Ditambahkannya, bahwa kedepan Indra berharap ada dukungan dana yang memadai untuk bisa memasukkannya ke dalam produksi yang sesuai standar.

"Memanag secara inovasi adik2 sudah mampu membuat, memang perlu dukungan dana jika ingin dibuat sesuai standar industri, nanti ada pengembangan lagi", imbuhnya.

Dari cerita Mufaqqih Hasan diatas, ia sudah mampu menjawab cibiran miring mengenai anak broken home yang tak selamanya harus jadi sampah ditengah masyarakat.

Tidak, sama sekali tidak ada yang salah dengan anak broken home, walaupun di mata beberapa orang anak broken home itu identik dengan pemberontak, kenakalan, brutal, pergaulan bebas, narkoba, dan hal buruk lainnya. Padahal pada kenyataannya tidaklah seperti itu, tidak semua anak broken home itu buruk. akan tetapi masyarakat banyak yang menilai salah, dan tidak jarang ada yang bilang “oh, anak broken home toh, pantas kelakuannya kayak gitu.”

Padahal anak broken home atau tidak, tergantung dari pribadi masing-masing apakah mereka menanggapi masalah secara positif atau negatif. Walaupun begitu harus diakui, anak broken home yang kuat jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan anak broken home yang lemah. jadi kesan inilah yang ditangkap banyak orang.

Anak broken home ada yang kuat dan ada yang lemah. Yang kuat akan menjadikan masalah sebagai motivasi untuk bangkit dan menjadi lebih baik, sedangkan yang lemah tidak sanggup mengatasi masalah dan terbawa arus ke hal-hal yang negatif.

Padahal, hidup dan masa depan kita ada di tangan kita sendiri, bukan di tangan orangtua kita.

Anak broken home yang kuat mencari perhatian dengan cara yang positif, mereka sadar keluarga mereka hancur dan mereka berusaha jangan sampai masalah membawa pengaruh negatif bagi kehidupan mereka. Justru masalah yang mereka hadapi motivasi bagi mereka untuk meraih cita-cita dan impian yang akhirnya membuat mereka mengukir banyak prestasi dan membuat orang sekitarnya kagum.

Kita dilahirkan di dunia ini ditakdirkan menjadi anak yang kuat, sabar, dan tabah, sadarilah kita adalah anak yang spesial.

Perceraian orang tua bukan akhir dari segalanya. Walaupun memang akan membuat hati merasa tidak nyaman, namun anak broken home juga bisa berprestasi seperti anak lainnya, bahkan bisa menjadi lebih berprestasi. (TL/Red).

Editor : Amaq Auliya