logo


Hadiri Tablig Akbar PCNU Melawi, TGB Bawakan Kisah Raden Tumenggung

Berikut penjelasanya
Sabtu, 02 Nov 2019, 23:56:56, 215 View

Hadiri Tablig Akbar PCNU Melawi, TGB Bawakan Kisah Raden Tumenggung
TGB Dr. KH. M. Zainul Majdi MA_doc. nw media center

TAJUKLOMBOK. COM - Ketua Ikatan Alumni Al Azhar Indonesia yang juga Ketum Tanfidzyah PBNW TGB HM Zainul Majdi mengisi tabligh akbar Hari Santri di Kabupaten Melawi, Provinsi Kalimantan Barat, Sabtu (2/11).

Acara yang diinisiasi oleh PCNU Kabupaten Melawi bersama Pemkab Melawi ini dihadiri berbagai elemen masyarakat setempat. Pada kesempatan tersebut, Bupati Melawi Panji mengatakan, kehadiran TGB sudah lama dinantikan. Pihaknya ingin TGB memberikan ceramah teduh kepada warganya.

Panji mengatakan, para santri diharapkan meneruskan cita-cita bagi bangsa. Berjuang untuk kemajuan bangsa. Ia berharap para santri ada di garda terdepan menangkal segala hoax dan ujaran kebencian.

"Sekarang ini medsos menjadi media penebar kebencian. Seharusnya medsos dimanfaatkan sesuai tujuan mulia," katanya.

Ketua Panitia Hari Santri Wahib Ubaidillah mengatakan, peringatan hari santri 2019 sudah berjalan beberapa waktu lalu. Tabligh Akbar yang dihadiri oleh TGB HM Zainul Majdi sebagai puncak hari santri.

Acara ini, lanjutnya, sekaligus mendorong santri memiliki pemikiran untuk bangsa. Santri tetap berpikir  membangun bangsa dan negara. 

"Filosofis santri luar biasa. Kader yang mencintai bangsa dan negara berdasar panggilan nurani," katanya.

TGB mengawali ceramah dengan membuka kisah Raden Tumenggung, pahlawan asal Kabupaten Melawi. Pahlawan pemersatu bangsa. 

"Kita jangan ada ucapan yang memecah belah bangsa. Karena beda satu atau dua kemudian meminggirkan orang lain, kita ingat bagaimana Raden Tumenggung," urainya.

Ditengah ceramah, TGB sempat mengetes hafalan santriwati Ponpes Bustanul Quran. Surat Al Baqarah, Surat Ali Imran, Surat Ibrahim, hingga Surat Al Waqiah ditanyakan pada santriwati. 

Cucu Pahlawan Nasional TGKH Zainuddin Abdul Madjid ini kepada para jamaah melanjutkan, tidak perlu lagi perbedaan dijadikan sebagai jurang pemisah. Sejak dahulu Indonesia terlahir dengan suku, agama, dan golongan berbeda.

"Itu yang diwariskan oleh para pendiri bangsa," ujarnya.

TGB menyebut, peringatan Hari Santri bukan sekadar seremoni semata, peringatan ini harus semakin membumikan karakter santri di Indonesia. Santri bukan hanya mereka yang hidup dan tinggal di pesantren.

"Siapa saja bisa menjadi santri. Mereka yang berkarakter mulia, akhlak baik, serta kecintaan membangun bangsa itu juga santri," sambungnya.

Doktor ahli tafsir Alquran ini berharap, santri sanggup mengisi segala ruang untuk bangsa. Seperti Nabi Muhammad dahulu, tak memerintahkan semua sahabatnya menjadi ahli agama. Diantara sahabat nabi ada yang menjadi pedagang, petani, peternak, peternak, ahli fiqih, ahli faraidh, sampai delegasi untuk menyampaikan pesan rasul di berbagai negara.

"Mari warga Melawi kembangkan potensi diri sesuai dengan bakat. Jangan memaksakan sesuatu yang tak sesuai kemampuan, bangsa akan menjadi kuat tiap ranah kehidupan diisi oleh orang yang kompeten " bebernya.

TGB mengakui, dalam kehidupan bermasyarakat tidak semua masyarakatnya baik, tanpa cela. Ketika zaman nabi pun di Madinah tidak semuanya baik. Ada juga orang yang nakal.

"Tapi yakinlah kebaikan itu yang akan terlihat, yang jelek-jelek nanti di pinggir," sambungnya.

Yang diperlukan, kata TGB, saling mengisi antar individu. Tidak ada orang sempurna, suci dari dosa. Ketika ada yang kurang baik, diberikan nasehat.

"Kita manusia diciptakan untuk saling isi dan melengkapi," tambahnya.(NWMC/TL/Red).