logo


HGN Kamuflase: Malam Jadi Sundel Bolong, Siang Jadi Guru

Berikut penjelasanya
Selasa, 26 Nov 2019, 01:31:41, 203 View

HGN Kamuflase: Malam Jadi Sundel Bolong, Siang Jadi Guru
Musri guru SD di Sumut salah satu guru dari sekian guru yang masih belum sejahtera_doc. Tribun-Medan.com

TAJUKLOMBOK. COM - Bertepatan dengan Hari Guru Nasional 25 November 2019, kesejahteraan guru honerer menjadi perbincangan.

Guru honorer di Sumut, Musri (46) mengaku hanya dibayar Rp 700 ribu sebulan.

Melansir Tribun-Medan.com, Musri (46), merupakan guru kelas VI di SD Negeri 105364 di Desa Lubuk Rotan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdangbedagai.

Meski sudah 20 tahun mengabdi sebagai guru honorer, ia masih bergaji Rp 700 ribu per bulan.

Gaji yang sangat sedikit itupun diterima setiap tiga bulan sekali.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari banyak hal yang ia lakoni.

Salah satunya adalah dengan menjadi "hantu" sejak sepuluh tahun belakangan.

Ia berperan sebagai hantu penghibur dalam rombongan keyboard (organ tunggal) yang sering diundang pada pesta khitanan atau pernikahan di kampung-kampung.

Di Kabupaten Serdangbedagai, hiburan ini sering dikenal sebagai Keyboard Mak Lampir.

"Gaji cuma Rp 700 ribu per bulan, ya harus pintar-pintarlah cari tambahan. Job-nya itulah, jadi sundel bolong atau pocong.

Nge-job-nya sama kawan-kawan dan sebulan minimal bisa tampil empat sampai enam kali."

"Sekali tampil bisa bergaji Rp100 ribu sampai Rp 125 ribu per orang tergantung jauh dekatnya lokasi acara," kata Musri Senin, (25/11/2019).

Musri yang mengaku merias diri sendiri untuk keperluan manggung ini telah menghibur bersama kelompoknya sampai ke Balam Pekanbaru.

Ia mengaku tidak malu melakoni pekerjaan itu.

Meski terkadang merasa profesinya sebagai guru sangat jauh dari pekerjaan sebagai penghibur Keyboard Mak Lampir, namun demi sesuap nasi ia siap untuk melakukannya.

Musri yang tinggal di Desa Kesatuan, Kecamatan Perbaungan, ini juga merasa pekerjaan sampingannya ini berguna karena dapat menghibur orang lain.

"Terkadang saya pun ikut nyanyi di keyboard.

Tapi jaranglah karena lebih banyak job jadi hantu.

Walaupun pulang jadi hantu malam tapi saya usahakan jangan sampai mengganggu kerjaan jadi guru.

Job jadi hantu itu biasanya Sabtu dan Minggu."

"Kadang kalau tidak ada job jadi hantu ya jadi badut.

Lumayan juga bisa dapat Rp150 ribu sekali manggung.

Aku enggak mencuri jadi enggak perlu malu karena aku menganggap apa yang kulakukan ini hanya sebatas menghibur dan membuat orang ketawa saja," kata Musri.

Musri mengaku belum tahu sampai kapan pekerjaan sebagai penghibur akan ia jalani.

Bapak satu orang anak ini menyebut selama ini atasan ataupun rekan-rekannya sesama guru di sekolah tidak pernah mempermasalahkan pekerjaannya sebagai penghibur.

Atasan dan rekan sesama guru memaklumi karena sama-sama tahu gaji yang didapat sebagai guru sangat kecil.

Meski pekerjaan ini masih terasa asing bagi sebagian orang, namun ia menyebut anak muridnya ataupun walimurid sudah menerima.

Bahkan mereka sering bertanya apakah ada pekerjaan manggung untuknya atau tidak.

Keluarga juga tidak pernah mempersoalkan.

"Saya dan istri sudah lama pisah. Kalau anak saya ada satu, tapi dia ikut dengan mamaknya di Medan," katanya.

Pada Hari Guru ini Musri berharap agar pemerintah bisa lebih memperhatikan kesejahteraan guru honorer.

Ia menyebut sempat mencoba seleksi K II dan Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja (P3K,) namun pada saat itu ia belum beruntung.

Momentum Hari Guru yang selalu diperingati setiap tanggal 25 November harusnya mengingatkan semua pihak.

Khususnya pemerintah untuk kembali memperhatikan kesejahteraan guru, khususnya guru honorer yang jumlahnya kurang lebih mencapaii 250 ribu orang di seluruh indonesia atau sekitar 50 persen dari jumlah tenaga honorer.

Dari data tersebut, masih banyak sekolah yang memberikan honor sebesar 15 persen dari dana BOS yang diterima untuk para guru honorer di sekolah tersebut. 15 persen dari dana BOS itu tidak cukup untuk dibagi-bagi kepada guru honorer di sekolah.

Sebelumnya guru honorer K2 dijanjikan untuk diangkat menjadi Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja (PPPK), namun janji itu sampai saat ini belum bisa dinikmati para guru. Ia menilai, banyak guru sekolah terkendala untuk mengikuti sertifikasi karena harus mendapatkan SK dari pemerintah daerah setempat.

Kini, dengan Mendikbud Nadiem Makarim yang baru menjabat, diharapkan ada darah segar dalam memperhatikan berbagai beban yang dimiliki para guru.

Sehingga perayaan Hari Guru Nasional bukan hanya sekedar kamuflase dari derita bertubi-tubi yang dialami guru honorer dari setiap pergantian rezim. (TL/Red).