logo


Jalan Licin Menuju Lender | Tajuklombok

Berikut penjelasanya
134 View

Jalan Licin Menuju Lender | Tajuklombok
Istimewa

TAJUKLOMBOK. COM - Cuaca begitu cerah, langit tampak terang benderang saat sepeda motor yang menuntunku bergerak menuju Lereng Gunung Lender yang masuk kawasan Desa Kabul Kecamatan Praya Barat Daya, Jum'at 19 Februari lalu usai merayakan Lebaran Mingguan di Masjid Baiturrahiem Penujak.

Masuk dari simpang Tebek, saya disuguhkan puing-puing bekas banjir yang sempat melanda Dusun Pampang Desa Kabul yang terjadi pada Sabtu (30/01) sekitar pukul 21.00 Wita dini hari, akibat hujan deras di hulu Sungai Kabul yang meluap dan banyak menghanyutkan kayu-kayu besar, sampah dedaunan, sehingga terjadinya penyumbatan ke aliran anak sungai, dan akhirnya meluap dan melimpah ke pemukiman milik warga, hingga madrasah Syamsul Ma'arif NU pun tak luput dari terjangan banjir tersebut.

Melewati Pampang, kondisi jalan menuju Lender sangat memprihatinkan, dimana jika kemarau "BERDEBU" dan jika musim penghujan bak "Kubangan Lumpur".

Kondisi infrastruktur di perdesaan sangat memprihatinkan, lemahnya infrastruktur ini pula yang menyebabkan desa tertinggal tidak berkembang.

Sesampainya di rumah yang saya tuju, kumandang Azan Ashar menggema diantara gemeretak rumpun bambu yang digoyang tiupan angin. Berderit disambut kicauan burung membentuk irama alam dan menjadikannya melodi yang dalam kenangan memoriku saat membuat tulisan ini lebih tampak elegi sore pedesaan yang sunyi dari hiruk pikuk perkotaan.

Namun, begitu saya hempaskan tubuh saya diatas berugak yang berlantai balai bambu yang dianyam, lamat-lamat gerimis mengundang hujan yang lebih deras.

Dusun Lender, dengan penduduk berjumlah 135 KK (405 Jiwa). Daerah ini berada di bawah lereng gunung Lender yang dulunya sangat subur, namun beberapa tahun ini drastis mengering akibat dari banyaknya pohon besar yang di tebang, dan terancam banjir jika musim penghujan.

"Di Dusun ini ada dari, Penujak, Darek, Plambik dan Kopang, entah bagaimana mereka dulu bisa sampai ke tempat ini," ujar Ahmad, Pemuda yang cukup beruntung karena sempat mengenyam pendidikan hingga Pulau Jawa.

Kondisi warga di daerah ini sangat memprihatinkan, mengingat sebagian besar warga bekerja sebagai petani yang hanya bisa mengandalkan air hujan untuk mengairi sawah mereka. Terlebih jika tidak ada air hujan, maka tanaman seperti padi tidak ada yang subur.

Usai berbincang panjang lebar, sayapun pamit undur diri meski kondisi cuaca sangat tidak bersahabat karena hujan angin namun keinginan cepat sampai rumah mengalahkan hujan dan angin.

Baru dalam perjalanan pulang, saya benar-benar merasakan kondisi getir yang dialami masyarakat Dusun Lender, yang setiap hari melewati jalanan licin berlumpur jika hujan dan berdebu kalau lagi kemarau.

Sebagai masyarakat yang mendiami pedalaman, pedesaan. Lender sangat membutuhkan Fasilitas sekolah, fasilitas kesehatan dan tentu saja fasilitas jalan yang layak. Kondisi jalanan rusak masyarakat berharap segera mendapat perhatian pemerintah, baik itu desa, kecamatan, kabupaten hingga provinsi.

Sepanjang sejarah Indonesia merdeka, 72 ribu desa yang kini sebagai tempat tinggal bagi 50,02 persen penduduk terus mengalami marginalisasi, keterisolasian, keterbatasan akses sumber daya, akses  pembangunan, serta keterbatasan pada akses politik. Desa masih merupakan kantong kemiskinan dan rawan mengalami ketidakadilan sosial. Terus mengalami keterisolasian, secara politik tertinggal dari orang kota, bahkan sering jadi objek politik. (TL/Red).

Catatan perjalanan Amaq Auliya