logo


Jalan Panjang Industrialisasi NTB

Berikut penjelasanya
314 View

Jalan Panjang Industrialisasi NTB
Dwi Hidayat J_dokpri

TAJUKLOMBOK. COM - Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr.H.Zulkieflimansyah, membuat gebrakan baru dengan melakukan industrialisasi pada program prioritasnya membangun NTB. Seperti yang kita telah ketahui bersama, kebijakan ini kemudian menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat, dan tidak sedikit yang mencibir industrialisasi sang Doktor Ekonomi. Gubernur yang kerap disapa bang Zul ini, sadar bahwa langkahnya dalam mengembangkan industri NTB tidaklah mulus, terlebih NTB lebih dominan berkembang sektor pariwisata dan pertanian yang sebagian besar masih tradisional. 

Bang Zul, sering kali menekankan pentingnya industrialisasi, dalam beberapa kesempatan dia menyampaikan obsesinya tersebut. Dia bahkan tidak segan menunjukkan optimismenya membangun industri NTB, dengan secara aktif turun gunung melihat secara langsung para pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM). Beberapa kali bang Zul terlihat hadir dalam berbagai acara-acara peresmian dan pameran-pameran IKM.

Selain itu, bang Zul secara aktif mempromosikan beragam produk industri lokal, diantaranya motor listrik “Lingsar”, sepeda listrik “Le-Bui”, motor listrik “NgebUTS”, hingga sepeda listrik “Matric-B” (Mbojo Electric-Bicycle). Walaupun, produk motor listrik harganya terbilang masih mahal, tapi hal ini bisa dikatakan merupakan langkah awal untuk memotivasi para pelaku industri berkreatifitas lebih maksimal lagi. 

Bang Zul sadar, bahwa kehadiran pemerintah ditengah-tengah pelaku IKM perlu ditingkatkan guna merangsang geliat pertumbuhan industrialisasi di tingkat bawah. Seperti yang sering disampaikan olehnya, bahwa industri di NTB tidak bicara tentang industri besar, melainkan harus dimulai dari industri-industri kecil dan menengah. Oleh sebab itu, pemerrintah memiliki peran dan tanggung jawab terhadap keberlangsungan produktivitas agar terus berlanjut.

Keberlangsungan produktivitas dari para pelaku IKM ini, turut berperan serta mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Perlahan industri NTB mulai menggeliat, pemerintah provinsi aktif melakukan pembinaan dan pendampingan pelaku IKM. Diharapkan beberapa tahun para pelaku IKM ini, bisa berkembang baik. Dengan begitu sektor industri bisa membuka lapangan kerja baru bagi para pencari kerja.

Akan tetapi, situasi pandemi Covid-19 yang belum kunjung berakhir sejak awal tahun 2020 lalu, memberikan tantangan tersendiri. Tidak sedikit IKM mulai terdampak oleh pandemi, tetapi pemerintah NTB memberikan solusi kongkrit dalam upaya mengatasi hal tersebut dengan mengadirkan program Jaringang Pengaman Sosial (JPS) Gemilang. Hadirnya JPS Gemilang memberi “nafas bantuan” kepada para pelaku IKM. Kebijakan tepat dikeluarkan oleh bang Zul, dengan melibatkan para pelaku IKM lokal dengan berbagai jenis produknya. JPS Gemilang memberi kesempatan bagi IKM lokal untuk terus meningkatkan produktifitas maupun kualitasnya.

Alhasil, Program JPS Gemilang menuai pujian dari Presiden Joko Widodo. Kebijakan tidak biasa ini, kemudian menjadi contoh daerah lain sebagai upaya menyelamatkan para pelaku dari efek pandemi Covid-19. Tidak hanya mendapatkan pujian dari berbagai kalangan, melainkan juga berhasil mengembangkan industrialisasi kerakyatan di tengah Pandemi.

Industrialisasi Sebagai Sebuah Proses Panjang

Tidak bisa dipungkiri, industrialisasi merupakan cara ampuh untuk meretas nasib kemakmuran suatu negara secara lebih cepat. Pengembangan sebuah daerah kearah industrialisasi adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindarkan. Banyak negara mandiri dan maju secara ekonomi, disebabkan oleh perkembangan industri yang telah maju dan modern. Sehingga, keterkaitan antara ekonomi dan industri saling berpengaruh satu sama lain.

Industri di NTB bukan tentang manufaktur besar, melainkan industri berbasis masyarakat. IKM diberikan lompatan besar agar berkembang dan mandiri, industrialisasi ala bang Zul ini harus dipahami sebagai proses ikhtiar pemerintah provinsi mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Hal ini, sejalan dengan keyakinan sang Gubernur, bahwa pengangguran dan kemiskinan akan bisa dikurangi dengan industrialisasi. Sebab, industrialisasi memungkinkan hadirnya peningkatan produktivitas. Komoditas yang tumbuh dari tanah-tanah di NTB, bisa menghasilkan nilai tambah berlipat ganda berkat industrialisasi.

Mengacu pada Kamus Cambridge, industrialisasi itu adalah proses pengembangan industri dalam sebuah negara. Sedangkan menurut Kamus Besar Indonesia, industrialisasi  adalah suatu proses perubahan  sosial  ekonomi, yang mengubah sistem pencaharian masyarakat  agraris  (pertanian) menjadi masyarakat  industri.

Buku karya Lincolin Arsyad "Ekonomi Pembangunan", menyebut industrialisasi adalah proses modernisasi ekonomi yang mencakup seluruh sektor ekonomi yang berkaitan satu sama lain dengan industri pengolahan. Dapat dikatakan bahwa tujuan dari industrialisasi ini, adalah meningkatkan nilai tambah seluruh sektor ekonomi dengan sektor industri pengolahan sebagai sektor utama.

Konsep industrialisasi bang Zul, dapat penulis pahami sebagai sebuah proses yang membutuhkan waktu cukup panjang. Industrialisasi bang Zul, harus juga dipahami sebagai sebuah proses bertahap, karena industrialisasi adalah “kata kerja” yang terus berjalan dan berproses. Industrialisasi bukan sesuatu yang terjadi dan terwujud dalam satu malam, tetapi proses berkala yang terus berdinamika dengan situasi sosial terkini. Disamping itu, dibutuhkan keseriusan, komitmen, dan konsistensi membangun dan mengembangkan industri, terlebih dengan situasi industri di NTB jauh dari kata berkembang.

Proses bertahap dari industrialisasi tidak boleh mandeg, evaluasi terhadap progress perlu dioptimalkan agar mencapai target yang diinginkan. Industrialisasi juga membutuhkan sistem “holistic” dalam membangun. Profesionalisme kinerja pemerintah, khususnya dinas terkait mesti ditingkatkan, birokrasi harus mulai dipangkas, agar tidak menghambat. Sinergitas antar pemangku kebijakan perlu diharmonisasi, agar tidak tumpang tindih.

Yang tidak kalah pentingnya juga, adalah fokus terhadap industri yang ingin dikembangkan, karena tidak semua industri harus dikerjakan secara sporadis. Diperlukan prioritas industri, guna memfokuskan konsentrasi. Sejauh ini, pemerintah provinsi NTB telah memprioritaskan lima bidang yakni pangan, ternak, unggas, pertanian dan perkebunan.  Agro industri kayu dan bukan kayu, pakan serta industri mesin, transportasi dan energi terbarukan. Ada juga industri tambang seperti smelter dan turunannya, industri kimia dan industri kreatif. Sektor-sektor tersebut juga harus mampu menunjang sektor pariwisata, yang terlebih dahulu berkembang.

Dari kelima bidang industri diatas, hemat penulis, bang Zul harus lebih memprioritaskan pada bidang pertanian, perkebunan, peternakan dan pengolahan hasil laut, karena bidang-bidang tersebut paling menyentuh masyarakat kelas bawah. Selain itu, sangat strategis bila dikembangkan secara maksimal.

Perda Industrialisasi NTB

Keseriusan pemerintahan bang Zul pada industrialiasasi bisa dilihat dari terbitnya Peraturan Daerah (Perda) Rencana Pembangunan Industri NTB. Perda industrialisasi merupakan proyek jangka panjang bang Zul membangun industri. Hal ini menjawab pertanyaan banyak orang, bahwasanya obsesi industrialisasi membutuhkan proses cukup panjang, dengan target menjadikan Provinsi NTB sebagai daerah  Industri  Mandiri, bercirikan  struktur industri  daerah  yang kuat dan berdaya saing tinggi pada tahun 2040.

Penguatan industrialisasi melalui Perda, juga memberikan kepastian hukum terhadap para stakeholder terkait dan para pelaku industri. Melalui roadmap kongkrit, industrialisasi NTB memiliki pedoman yang ter-arah. Bahkan, Perda industrialisasi pemerintah provinsi NTB, merupakan yang pertama di Indonesia, daerah lain sejauh ini belum ada yang menetapkan industri dalam Perda.

Arah pembangunan industrialiasasi bang Zul, patut kita tunggu seperti apa hasilnya. Kita tidak bisa menilai sesuatu yang baru saja dimulai. Seperti yang penulis dibahas sebelumnya, industrialisasi adalah proses yang masih terus berjalan, bahkan bang Zul baru saja menanamkan pondasinya melalui Perda. Industrialisasi bukan given atau sudah ada dari sananya, tetapi Industrialisasi harus didesain dengan baik sedari awal, yang sudah dirancang secara matang. Salah satu bentuknya, yakni dengan membuat Rencana Pembangunan Industri sebagai grand design industrialisasi di NTB.

Kita tentunya berharap obsesi industrialisasi Gubernur NTB bisa berjalan dengan baik. Meskipun, industrialisasi masih terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi industrialisasi adalah keharusan, karena sektor industri akan membawa dampak turunan, yakni meningkatnya nilai kapitalisasi modal, kemampuan menyerap tenaga kerja yang besar, kemudaian yang tak kalah penting juga kemampuan menciptakan nilai tambah (value added creation).

Semoga era industrialisasi dapat membawa perubahan besar bagi pembangunan, yang berdampak terhadap naiknya taraf hidup masyarakat NTB lebih baik kedepannya. Dan tentunya untuk mencapai cita-cita tersebut, diperlukan kesabaran berproses. Walaupun dalam suatu proses akan selalu ada hambatan, rintangan, dan tantangan di dalamnya. (TL/Red).

Oleh : Dwi Hidayat J, Direktur Wacana NTB

Editor : Amaq Auliya