logo


Jelang Penutupan CPNS di NTB, Sejumlah Formasi Sepi Peminat

Berikut penjelasanya
1125 View

Jelang Penutupan CPNS di NTB, Sejumlah Formasi Sepi Peminat
Ilustrasi_internet stock

TAJUKLOMBOK. COM – Menjelang penutupan pendaftaran CPNS Pemprov NTB 2019, formasi untuk dokter spesialis masih sepi peminat. Baru formasi  dokter spesialis anak dan dokter spesialis kandungan yang ada pelamarnya, masing-masing satu orang. Sedangkan 20 formasi dokter spesialis lainnya masih kosong pelamar. Pendaftaran CPNS Pemprov NTB akan ditutup pada Selasa, 26 November 2019.

Sekretaris Badan Kepegawaian Daerah (BKD) NTB, Yus Harudian Putra, S.STP yang dikonfirmasi Jumat, 22 November 2019 sore menyebutkan, total jumlah pelamar CPNS Pemprov NTB hingga pukul 16.15 Wita sebanyak 3.005 orang. Dari jumlah 414 formasi yang dibuka, ada beberapa formasi untuk tenaga pendidikan dan tenaga kesehatan yang belum ada pelamarnya.

Khusus untuk formasi tenaga kesehatan dengan jabatan dokter spesialis ada 20 formasi yang masih kosong pelamar. Antara lain, dokter spesialis anak RSJ Mutiara Sukma, dokter spesialis anak RSMA, dokter spesialis anestesi RS Mata NTB, dokter spesialis bedah RSUD NTB, dokter spesialis bedah syaraf RSMA, dokter spesialis jantung RSMA.

Selanjutnya, dokter spesialis kandungan RSMA, dokter spesialis kulit dan kelamin RSMA, dokter spesialis mata RSMA, dokter spesialis paru RSMA, dokter spesialis patologi anatomi RSMA, dokter spesialis penyakit dalam RSJ Mutiara Sukma.

Kemudian dokter spesialis penyakit dalam RSMA, dokter spesialis radiologi RSMA, dokter spesialis radiologi RS Mata NTB, dokter spesialis rehabilitasi medik RSJ Mutiara Sukma. Dokter spesialis syaraf RSJ Mutiara Sukma, dokter spesialis syaraf RSMA, dokter spesialis THT RSMA, dokter spesialis urologi RSMA.

Yus mengatakan, formasi dokter spesialis yang sudah ada pelamarnya adalah dokter spesialis kandungan RSUD NTB baru 1 orang pelamar. Kemudian formasi dokter spesialis anak RSJ Mutiara Suka juga baru 1 orang pelamar. Selain formasi dokter spesialis, formasi lainnya seperti psikolog klinis RSMA juga masih kosong pelamar. Serta formasi dokter gigi RSMA dan nutrisionis RSMA masih kosong pelamar.

Selain formasi tenaga kesehatan, ada sejumlah formasi tenaga pendidikan juga masih belum ada pelamar. Antara lain, guru kelas SLBN 1 Sumbawa, guru TIK SMKN 1 Pringgasela, guru TIK SMAN 1 Moyo Hulu, guru tata boga SMKN 1 Maluk dan guru prakarya dan kewirausahaan SMKN 1 Monta.

Selain itu, guru prakarya dan kewirausahaan SMKN 1 Plampang, guru prakarya dan kewirausahaan SMKN 1 Lenangguar. Guru prakarya dan kewirausahaan SMAN 1 Lape, guru prakarya dan kewirausahaan SMAN 1 Moyo Utara dan guru prakarya dan kewirausahaan SMAN 1 Labangka.

Kemudian guru nautika kapal niaga SMKN 1 Alas, guru nautika kapal penangkap ikan SMKN 1 Tarano. Guru nautika kapal penangkap ikan SMKN 1 Lopok dan guru nautika kapal penangkap ikan SMKN 1 Plampang. Selanjutnya, guru multimedia SMKN 1 Seteluk, guru multimedia SMKN 1 Woha dan guru Bahasa Inggris SLBN 1 Dompu.

Berkaitan dengan formasi dokter spesialis, berbagai upaya dilakukan pemerintah agar formasi dokter spesialis terisi dalam penerimaan CPNS 2019. Selain usia pelamar dinaikkan menjadi maksimal 40 tahun, Pemda juga akan memberikan insentif bagi dokter spesialis agar mereka mendaftar pada seleksi penerimaan CPNS 2019.

Baca juga: Pelamar CPNS Mulai Berguguran
Dalam rekrutmen CPNS 2018 lalu, 37 formasi dokter spesialis Pemprov NTB tidak terisi. Lantaran, pada waktu itu, umur maksimal pelamar untuk formasi dokter sama dengan formasi lainnya, yakni 35 tahun. Namun, dalam rekrutmen tahun ini, Presiden Jokowi telah menerbitkan  Keppres No.17 Tahun 2019 menetapkan enam jabatan tertentu yakni dokter, dokter gigi, dokter pendidik klinis, dosen, peneliti dan perekayasa dengan batas usia pelamar CPNS paling tinggi 40 tahun.

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp.A, M.PH yang ditanya mengenai minimnya minat dokter spesialis menjadi PNS, hal itu menjadi tantangan bagi Pemda. Untuk menarik minat dokter spesialis menjadi PNS, Pemprov akan memberikan insentif kepada dokter maupun dokter spesialis yang bertugas di daerah-daerah tertentu.

Dikatakan, jumlah dokter spesialis masih sangat kurang di NTB, baik provinsi dan kabupaten/kota. Jangankan dokter spesialis, ia mengatakan jumlah dokter umum juga masih kurang. Eka mengatakan, dari 10 kabupaten/kota di NTB, baru Kota Mataram yang sudah terpenuhi jumlah dokter umum.

Sesuai standar, satu orang dokter di suatu daerah melayani 10.000 jiwa. Sedangkan untuk dokter spesialis, tergantung kelas rumah sakit. Semakin tinggi kelas rumah sakit,  maka jumlah dokter spesialis juga harus semakin banyak. (SNTB/TL/Red).