logo


Jelang Ramadhan, Zohri Ziarahi Makam Kedua Orang Tuanya di KLU

Berikut penjelasanya
391 View

Jelang Ramadhan, Zohri Ziarahi Makam Kedua Orang Tuanya di KLU
Lalu Muhammad Zohri bersama sang pelatih, Eni Nuraeni, di Kejuaraan Atletik Asia 2019 di Doha. (Foto: Dok. PB PASI)

TAJUKLOMBOK.COM - Sekembalinya ke tanah air usai bertanding di Doha Qatar dengan membawa medali perak, Sprinter andalan Indonesia Lalu Muhammad Zohri menziarahi makam kedua orang tuanya di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (27/4).

"Zohri sedang ziarah ke Lombok. Jenguk makam orang tuanya dulu, kan mau Ramadan," kata pelatih kepala atletik Indonesia Eni Nuraini di sela memimpin latihan di Stadion Madya Senayan, Jakarta yang dikutip Tajuklombok.com dari AntaraNews NTB.com.

Diketahui, Zohri yang lahir di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat pada 1 Juli 2000 ini adalah putra ketiga dari pasangan Saeriah dan Lalu Ahmad. Tapi sayangnya. Kedua orangtua Zohri tak bisa menyaksikan kesuksesan yang diraih anaknya mengahrumkan nama bangsa karena lebih dulu dipanggil Sang Kuasa.

Ibunya meninggal saat dia masih duduk di bangku SD, sedangkan sang ayah wafat saat dirinya menginjak usia 17 tahun. Zohri pun tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuanya.

Sejak bergabung dalam tim PB PASI junior, atlet asal Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang itu menganggap Eni Nuraini lah yang bertugas sebagai ibu baginya di mess.

Hal ini diakui sendiri oleh Zohri ketika ditemui di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (26/4).

"Saya biasanya tanya soal kekurangan nanti dia cerita gimana, sudah seperti ibu sendiri lah," kata peraih perak Kejuaraan Atletik Asia 2019 dan memecahkan rekor nasional dengan catatan waktu 10,13 detik itu.

Eni mengatakan Zohri sudah izin kepadanya untuk ziarah dan akan kembali bergabung dalam tim pelatnas hari Senin (29/4) demi mempersiapkan diri untuk menghadapi kejuaraan berikutnya.

Khusus buat Zohri, pelatih terbaik Asia 2018 versi Asosiasi Atletik Asia ini sudah mempersiapkan latihan khusus sebagai evaluasi dari kegagalan merebut medali emas di Doha, Qatar kemarin.

"Kami fokus meningkatkan kecepatan saat memulai start, kita akan meningkatkan porsi latihan reaksi sepanjang 30 meter," ujarnya.

Eni mengatakan menu latihannya nanti akan sama seperti latihan untuk sprint 100 meter, hanya akan lebih banyak pendalaman ke teknik estafet, misalnya latihan reaksi dan teknik pertukaran tongkat.

"Karena memang itu yang sangat penting di lari estafet," ujarnya.

Zohri dan kawan-kawan diharapkan bisa berperan besar dalam nomor estafet 4x100 meter di kejuaraan World Relays Champhionship 2019 di Yokohama Jepang, pada 11-12 Mei nanti.

Ajang IAAF World Relays Championship merupakan kejuaraan dunia estafet dua tahun sekali ini sebenarnya memiliki nomor-nomor lain yang dipertandingkan seperti 4x200 meter dan 4x400 meter namun Eni mengatakan Indonesia membidik kemenangan di nomor 4x100 meter putra saja.

"Kita optimis bisa meraih medali di nomor 4x100 meter soalnya di Asian Games 2018, Zohri berhasil meraih medali perak mengungguli atlet-atlet kelas dunia juga," pungkasnya. (TL/Karim).