logo


Karakter Pemimpin

Berikut penjelasanya
158 View

Karakter Pemimpin
ilustrasi_foto doc. Cakra.co

TAJUKLOMBOK. COM - Krisis berkepanjangan yang berdampak pada kehidupan masyarakat Indonesia yang semakin hari semakin tak menentu. Krisis Akhlak, Kepercayaan, Krisis Keadilan, mudah terprovokasi, ujaran kebencian (Hate Speech) dan krisis-krisis yang lain selalu menghiasi kehidupan kita akhir-akhir ini, sementara itu disisi lain para elit politik, para pemimpin negeri ini sibuk mencari isi perut dan berebut kursi. Para pemimpin negeri ini seakan tuli, sekaligus tidak perduli akan jeritan pilu jutaan rakyat Indonesia yang terkungkung dalam penderitaan. Tampaknya rakyat tidak lagi memerlukan janji, tetapi bukti. Bukti keperdulian dari penguasa negeri ini untuk ikut memikirkan nasib mereka.

Dalam beberapa bulan kedepan, kita akan menghadapi sebuah hajatan kolektif berupa Pemilukada. Pemilihan yang akan menentukan arah masa depan bangsa dan masyarakat untuk 5 tahun mendatang. Memang secara hakiki kita semua adalah pemimpin. Namun dalam lingkup yang lebih luas, kita berkewajiban untuk menentukan siapa yang patut dan pantas kita pilih untuk mewakili kita dalam memimpin bangsa yang beragam dan beranekawarna ini. Pemimpin yang bisa membawa kita keluar dari krisis berkepanjangan sebagaimana yang sudah kami paparkan diatas, pemimpin yang ikut memirkan nasib kita rakyatnya.

Berbicara masalah memilih pemimpin dan kepemimpinan, ajaran Islam sangat detil ketika membincangkan tentang pemilihan pemimpin, karena hal tersebut memiliki dampak yang luas, tidak hanya pada individu, namun juga pada masyarakat dan lingkungan yang akan dipimpinnya kelak.

Kepemimpinan dalam Islam bukan hanya sekedar kontrak sosial antara sang pemimpin dengan masyarakatnya, tetapi juga merupakan ikatan antara dia dengan Alloh sehingga kepemimpinan adalah amanat yang harus dipertanggung jawabkan.

Wahai Abu Dzar, sesungguhnya kamu itu lemah.  Sesungguhnya jabatan itu merupakan suatu amanah (titipan).  Jabatan itu nanti pada hari kiamat merupakan suatu kehinaan dan penyesalan kecuali bagi pejabat yang dapat memanfaatkan haknya dan menunaikan kewajibannya dengan sebaik-baiknya” (HR. Muslim).

Berbagai persyarat telah digariskan oleh Islam terkait calon pemimpin yang dianggap layak untuk memimpin komunitas, organisasi, daerah, hingga level negara, antara lain adalah shiddiq (benar), amanah(terpercaya), tabligh (menyampaikan kepada umat), dan fathanah(cerdas).

Keempat syarat kepemimpinan tersebut sesungguhnya mengacu pada karakter kepemimpinan Rasulullah yang terbukti mampu menciptakan masyarakat yang adil, makmur, dan penuh dengan barakah serta keridhaan.

Karena selayaknya pemimpin yang menjadi wakil bagi rakyatnya adalah orang yang terhormat bukan manusia rendahan, memiliki kemampuan dan profesionalitas, dan amanah dalam mengemban tugas.

Al-Mawardi dalam kitab Al-Ahkamus Sulthaniyah, 1/3 berkata, “Kepemimpinan adalah pengganti tugas kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia dengannya.”

Tentu saja, untuk memiliki pemimpin dengan karakter yang sangat ideal di atas, bukanlah hal yang mudah. Namun di sini, ada satu hal yang bisa kita jadikan renungan bersama. Pertanyaan mendasar yang layak untuk kita kembalikan kepada pribadi kita masing-masing.

Jika kita berharap untuk memiliki pemimpin yang baik, sudahkah kita menjadi rakyat yang baik?

Jika kita berharap nantinya akan dipimpin oleh seorang muslim yang peduli dengan islam, sudahkah kita menjadi masyarakat yang perhatian dengan agamanya.

Kita memahami, adanya pemimpin di tengah tengah, adalah bagian dari taqdir Allah. Satu ayat yang sangat akrab kita dengar,

Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebaikan. (QS. Ali Imran: 26)

Adanya pemimpin di tengah kita, karena Allahlah yang mengangkatnya dan menunjuknya untuk menjadi pemimpin kita.

Bagian dari sunatullah, Allah menunjuk dan mengangkat seorang pemimpin, sesuai dengan karakter rakyatnya. Allah berfirman,

Demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. (QS. Al-An’am: 129)

Sebagai rakyat, kita sering menuntut para pejabat pemerintah, agar menjadi pemimpin yang amanah, harus jujur, bijak, adil, membela kepentingan rakyat, bertaqwa, dan berbagai tuntutan lainnya.

Namun pernahkah kita berfirkir sebaliknya, menuntut diri kita sebagai rakyat. Jika kita menerapkan sistem keseimbangan, di saat kita menuntut pemimpin harus baik, kita juga seharusnya menuntut rakyat untuk menjadi baik pula.

Ada orang khawarij yang datang menemui Ali bin Abi Thalib, “Wahai khalifah Ali, mengapa pemerintahanmu banyak dikritik rakyat, tidak sebagaimana pemerintahannya Abu Bakar dan Umar?!” tanya si Khawarij.

Jawab Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,

 “Karena pada zaman Abu Bakar dan Umar yang menjadi rakyat adalah aku dan orang-orang yang semisalku, sedangkan rakyatku adalah kamu dan orang-orang yang semisalmu!!” (Syarh Riyadhus Shalihin, Ibnu Utsaimin, 4/87).

Kaum muslimin, mari kita perhatikan surat al-An’am ayat 129 di atas.

Ayat dia atas menjelaskan kepada kita bahwa diantara hukuman yang Allah berikan kepada orang zalim adalah dengan Allah tunjuk orang zalim yang lain menguasainya. Dengan itu, orang zalim pertama, akan mendapatkan bentuk kezaliman dari orang zalim kedua.

Ketika masyarakat berusaha memperbaiki dirinya, istiqamah dalam menjalankan kebaikan, Allah akan perbaiki mereka dengan Allah tunjuk para pemimpin yang memperhatikan kepentingan mereka. Sebagai ganjaran atas kebaikan yang telah mereka lakukan.

Sebaliknya, ketika masyarakat banyak melakukan kezaliman, kerusakan, tidak menunaikan kewajibannya, maka Allah akan tunjuk pemimpin yang zalim di tengah mereka. Pemimpin yang tidak memihak kepentingan mereka. Bahkan bisa jadi akan menindas mereka. Sebagai hukuman atas kezaliman yang dilakukan masyarakat. (Tafsir Al-Qur’an al-Karim ar-Rahman, hlm. 273).

Para ulama mengatakan dalam sebuah ungkapan,

Amal perbuatan kalian, sejenis dengan pemimpin kalian. Sebagaimana karakter kalian, seperti itu pula bentuk kepemimpinan yang akan mengendalikan kalian.

Karena pemimpin cermin bagi rakyatnya. Pemimpin yang berkuasa di tengah masyarakat, tidak jauh berbeda dengan karakter masyakatnya.

jika seandainya kita menemukan sosok/figure pemimpin yang memiliki sifat-sifat seperti yang telah kami uraikan diatas, maka kita berkewajiban untuk memilihnya. Apalagi jika sifat-sifat tersebut dibarengi dengan sifat kebajikan yang sudah mendarah daging dalam diri mereka.

Semoga Alloh SWT. memberikan karunia-Nya kepada bangsa kita, bangsa Indonesia seorang pemimpin yang baik, yang adil, yang bijak, yang mampu membawa bangsa dan negara ini menuju masyarakat madani yang dalam istilah Al-Qur’an disebut “Baldatun Thoyyibatun Warobbun Ghofuur”. Wallohu A’lamu Bissowaab. (TL/Red)

Editor : Amaq Auliya