logo


Kisah Pedagang Sayuran & Sembako Laris Manis

Berikut penjelasanya
134 View

Kisah Pedagang Sayuran & Sembako Laris Manis
Dokpri

TAJUKLOMBOK. COM - Mulai merintis usaha dari nol itu tidaklah mudah, untung rugi pasti kita akan mengalaminya. Akan tetapi dengan kegigihan dan kesabaran pasti kita akan lalui dan berbuah kesuksesan.

Disini saya akan menceritakan interview sekaligus wawancara saya terhadap pedagang sayur dan sembako yang laris manis. Beliau berasal dari Desa Jerowaru Kec. Jerowaru Kab. Lombok Timur.

Ia bernama Sami'ah atau kerap kali dipanggil Inaq Saka berusia 50 tahun dan suaminya bernama H. Seneng atau kerap kali dipanggil Bapak Tuan Saka berusia 59 tahun. Beliau mempunyai 4 orang anak. Anak pertama bernama Saka yang bekerja sebagai seorang perawat dan sudah menikah, anak keduanya bernama Irwan Yon Hadi yang berumur 25 tahun masih kuliah S2 di Malang. Anak ketiganya bernama Samiatussakdiah masih kuliah juga di UNU NTB berusia 19 tahun dan anak terakhir bernama Sulhan Hakiki yang masih duduk di bangku MTS.

Orang tua dari Sami'ah keduanya sudah meninggal dunia sejak beberapa tahun silam. ibu dari Sami'ah bernama (alm. Ibu Rumlah) dan ayahnya bernama (alm. Bapak Kepah). Sedangkan suaminya juga sama seperti beliau, kedua orang tuanya sudah meninggal ayah dari suaminya bernama (alm. Bapak Maser) dan ibunya bernama (alm. Ibu Demok). Ibu Sami'ah dan suaminya sama-sama hanya lulusan MA Darul Aitam Jerowaru.

Beliau memulai bisnis dagang sayur dan sembakonya sejak tahun 2012 dengan modal sekitar 3.000.000 dan Alhamdulillah bisa berkembang sampai sekarang. 

Bisnis dagang sayur dan sembako keduanya cukup sukses, dimana awalnya hanya menempati teras rumahnya saja sebagai lapak, namun kini sudah bisa membangun toko klontong di Jln. TGH Muhammad Mutawalli Desa Jerowaru Kecamatan Jerowaru Kabupaten Lombok Timur yang biasanya tutup hingga pukul 20.00.wita atau pukul 8 malam.

Toko klontong Inaq Saka menyediakan variasi kebutuhan masyarakat, mulai dari sayur mayur, beras, minyak goreng, tepung, bumbu dapur dan lain sebagainya.

Sami'ah atau Inaq Saka menuturkan bagaimana kisah perjalanannya merintis toko klontong miliknya.

"Perjalanan bisnis saya tidak semudah yang orang lihat, untung rugi pasti dialami oleh semua pebisnis, tutur perempuan paruh baya tersebut. 

"Tapi (lanjut Inaq Saka,red) dari situlah saya belajar untuk tetap bersabar dan tetap istiqomah walaupun penghasilan dari kios tak mampu menutupi kekurangan ekonomi keluarga", ucapnya lebih lanjut. 

Disamping berjualan, Inaq Saka tak pernah lupa akan kewajibannya sebagi seorang muslim dan terus berdoa agar usahanya berkah dan makin terus berkembang.

Ketika ditanya mengenai penghasilannya dari berjualan perhari, atau tiap bulannya, ia menjawab tidak menentu.

"Penghasilan sehari bisa mencapai 500 ribu hingga satu juta perhari, disaat pembeli sedang ramai-ramainya datang berbelanja, akan tetapi tergantung situasi dan kondisi," ucapnya.

Jadi, kenapa saya mengatakan laris manis, karena tak butuh waktu lama untuk menjual sayuran dan sembako dagangannya. Setiap pagi sepulang dari pasar, dagangannya selalu diserbu pelanggan-pelanggannya.

Namun dengan penghasilan jutaan rupiah perhari pun tidak bisa menutupi kekurangan ekonomi, karena pengeluaran yang cukup besar dan disamping itu ada 3 anak yang masih menempuh pendidikan dengan biaya pendidikan yang terbilang cukup besar. Sehingga sang suami mencari pekerjaan sampingan untuk menutupi kekurangan ekonomi yang melanda. 

Beliau menjadi seorang sopir mobil pick up pengangkut barang, walaupun masih serba kekurangan ibu Sami'ah dan suaminya tidak pernah pantang menyerah untuk menyekolahkan anak-anaknya karena bagi mereka pendidikan itu penting untuk meraih sukses.

"Walaupun kita orang miskin, yang namanya pendidikan itu penting  dan pasti ada aja jalan untuk menuju kesuksesan," ujar H. Seneng menimpali.

Ibu Sami'ah dan suaminya adalah sosok yang baik dan ramah kepada semua orang, dari pengalaman pribadi saya, setiap saya lewat didepan kiosnya beliau selalu menyapa, mungkin itu yang membuat dagangannya laris manis karna keramahannya terhadap pembeli dan beliau juga tidak melarang pelanggannya kas bon di kiosnya.

Dengan kegigihan dan kesabarannya sebagai seorang pedagang, alhamdulillah usahanya berjalan dengan lancar dan beliau juga mampu membiayai pendidikan anak-anaknya sampai ke jenjang perkuliahan. Beliau juga berpesan kepada saya 

"Jangan pernah mengeluh dengan keadaan kamu sekarang ini, karena setiap orang mempuyai jalan dan kesuksesan masing-masing," pesannya. (TL/Red).

Oleh : Sugiani Lestari (2006060054/Mahasiswi FE UNU NTB)

Editor : Amaq Auliya