logo


KPAI Kecam Aksi Bejat Guru Perkosa Murid Depan Murid

Berikut penjelasanya
Sabtu, 27 Jul 2019, 14:14:26, 4637 View

KPAI Kecam Aksi Bejat Guru Perkosa Murid Depan Murid
Retno Listyarti, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), bidang pendidikan_dokpri Retno

TAJUKLOMBOK. COM - Seorang siswi kelas empat di salah satu Madrasah di wilayah Jakarta Utara menjadi korban kekerasan seksual guru olahrganya. selama enam bulan. Pelaku menjalankan aksinya dengan cara membuat korban menuruti keinginan bejatnya.Pelaku menakut-nakuti korban dengan mengancam akan memberikan nilai jelek apabila tidak mau menuruti permintaannya. Aksi pelaku yang sudah berulang tersebut dilakukan di dalam kelas saat mata pelajaran olahraga. Yang miris, pelaku melancarkan aksinya dihadapan siswi yang lain. 

Anak korban kekerasan, maupun anak saksi keduanya dapat mengalami masalah psikologis dan bahkan trauma, sehingga anak saksi maupun anak korban perlu di assessment  guna mendapatkan layanan rehabilitasi psikologis. Anak saksi bisa mengalami perasaan bersalah karena tidak mampu menolong, perasaan malu dan khawatir juga menjadi korban, sehingga anak saksi bisa mengalami tekanan psikologis juga. 

1.    KPAI mengapresiasi orangtua yang langsung melapor ke polisi begitu mengetahui anaknya menjadi korban pencabulan guru di sekolahnya, hal ini penting agar pelaku mendapatkan efek jera dan tidak jatuh korban anak yang lain;
2.    KPAI juga mengapresiasi pihak kepolisan yang segera menahan guru pelaku dan memastikan penggunaan UU Perlindungan Anak untuk menjerat pelaku; 
3.    KPAI akan berkoordinasi dengan P2TP2A Prov. DKI Jakarta untuk memastikan anak korban maupun anak pelaku mendapatkan rehabilitasi psikologis dan juga mendapatkan rehabilitasi medis dari Dinas Kesehatan Prov. DKI Jakarta;
4.    KPAI juga akan berkoordinasi dengan Kanwil Kementerian Agama DKI Jakarta terkait keberlanjutan pendidikan anak korban dan mendorong Kanwil Kemenag untuk berkoordinasi dan sosialisasi dengan sekolah-sekolah dibawah kewenangan terkait pencegahan kasus serupa di sekolah lain. Pihak sekolah juga harus dievaluasi pengawasannya karena ada guru yang leluasa melakukan perbuatan tidak senonoh di ruang kelas saat jam sekolah. 
Selain itu KPAI ingin memastikan bahwa guru pelaku yang merupakan ASN di bawah Kanwil Kemenang DKI Jakarta sudah di non aktifkan sebagai guru ASN sambil menunggu proses hukum, jika di vonis bersalah dengan hukuman di atas 4 tahun maka Kemenag dapat memecat ybs dengan tidak hormat. Pemecatan tidak hormat akan berimplikasi pada dicabutnya juga hak tunjangan pensiun. 

“Dalam kasus-kasus kekerasan seksual, kita semua kadang focus pada penghukuman pelaku, namun terkadang tidak focus membantu korban menjalani masa-masa berat usai mengalami kekerasan seksual, untuk itu KPAI mendorong orangtua untuk selalu mendampingi anak korban dan anak saksi. Harus menyakinkannya bahwa dirinya tidak bersalah, bahwa semua ini bukan salahnya, bahwa kita mendukungnya untuk pulih seperti sediakala  dan melanjutkan pendidikannya,” ujar Retno Listyarti, Komisioner KPAI bidang Pendidikan. 

Satu Bulan Terjadi Dua Kasus Kekerasan Seksual di Sekolah 

Dalam dua tahun terakhir angka kekerasan seksual terhadap anak di sekolah menunjukan gejala yang mengkhawatirkan.  Tidak hanya anak perempuan, anak laki-laki pun rentan mengalami kekerasan seksual di sekolah. Yang lebih memprihatinkan adalah kasus tertinggi justru terjadi di jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan pelaku guru dan kepala sekolah. Pelaku terbanyak adalah guru olahraga (

KPAI mencatat sampai Juli 2019, kekerasan seksual di sekolah yang dilaporkan kekepolisan mencapai 15 kasus, artinya rata-rata per bulan ada 2 kasus, yang menyebar di berbagai daerah diantaranya kabupaten Boyolali, Muara Enim, Lamongan, Majene, Bulukumba, Langkat, Limapuluhkota,  Kota  Surabaya, Malang, Serang, Batam, Pontianak, Majene,  dan Jakarta Utara.Dari 15 kasus tersebut, 10 kasus terjadi dijenjang SD, 4 kasus di jenajng SMP dan hanya 1 kasus di jenjang SMA. 

Berdasarkan berbagai kasus kekerasan seksual di dunia pendidikan sepanjang Januari-Juli 2019 yang tercatat KPAI,   tergambar  bahwa sekolah cenderung menjadi tempat yang tidak aman dan nyaman bagi anak didik. Kekerasan seksual terjadi di sekolah di tempat-tempat yang tidak terduga, seperti : ruang kelas, UKS (Unit Kesehatan Sekolah), perpustakaan, laboratorium komputer, mushola dan kebun atau halaman sekolah bagian belakang.

Modus Pelaku Kekerasan Seksual Di Sekolah

Berbagai kasus kekerasan seksual di sekolah  yang terjadi selama 7 bulan terakhir menunjukkan 12 modus pelaku yang beragam dan patut diwaspadai, modus pelaku untuk memperdayakan anak korban sehingga menuruti aksi bejatnya adalah sebagai berikut :

1.    mengajak anak korban menonton film berkonten pornografi di kelas saat jam istirahat dengan modus mengajak menonton bareng alias nobar tayangan pornografi berupa film dan lagu yang penuh dengan adegan tidak senonoh. Saat menonton film itu pelaku memegang-megang tubuh korban berulang kali.
2.    memberikan uang Rp 2.000 kepada anak korban asalkan mau di peluk dan dicium. Pelaku  memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri kemudian memberi uang Rp2.000 dan meminta anak korban meraba celana pelaku, namun korban menolak dan tangan korban diambil pelaku kemudian diletakan di celana pelaku.
3.    menjanjikan nilai bagus dan uang Rp 5.000
4.    membelikan korban handphone, pakaian dan kerap diberi uang jajan.   
5.    mengancam korban memberikan nilai jelek jika menolak atau melaporkan perbuatan pelaku kepada siapapun
6.    memacari anak korban kemudian di bujukrayu untuk melakukan persetubuhan. 
7.    memanfaatkan celah saat para siswi berganti pakaian menjelang pelajaran olahraga. 
8.    memanggil korban untuk duduk dekat kursi dan meja guru
9.    membantu korban belajar matematika setelah pulang sekolah. 
10.    memanfaatkan celah anak terlambat dijemput pulang orangtuanya. 
11.    dalih mendisiplinkan siswa beribadah. 
12.    berjanji menikah korban. Sebelum mencabuli siswinya, pelaku terlebih dahulu mengajak korban jalan-jalan dan nonton di bioskop. Usai menonton, saat itulah korban dibawa pelaku ke kosannya dan disetubuhi.  

“Pelaku kerap berjanji akan menikahi korban jika sudah lulus sekolah. Namun hingga tamat sekolah, korban pun tidak kunjung dinikahi pelaku. Korban L dan M saat ini sudah tamat, namun tidak dinikahi pelaku. Sementara N saat ini masih duduk di bangku sekolah tingkat SMA. Kasus ini terungkap setelah adanya laporan polisi yang dibuat orangtua korban ke Mapolresta Barelang, Batam, Kepulauan Riau. Setelah menyelidiki, maka pada 26 Juli 2019 polisi akhirnya menangkap dan menetapkan pelaku sebagai tersangka,” pungkas Retno. 

Jakarta, 27 Juli 2019 
Retno Listyarti, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), bidang pendidikan. (TL/Red).