logo


Launching Program Zero Waste, Angga Berharap Dasan Borok bisa jadi pilot Project Penanganan Sampah

Berikut penjelasanya
386 View

Launching Program Zero Waste, Angga Berharap Dasan Borok bisa jadi pilot Project Penanganan Sampah
Kepala Desa Dasan Borok, Angga Sarimah_dokpri

TAJUKLOMBOK. COM - Belakangan pemprov NTB gencar mengkampanyekan gerakan zero waste. Gerakan zero waste sendiri adalah sebuah lifestyle buat mengurangi penggunaan barang yang cuma bisa dipakai satu kali seperti tas plastik.

Di negara-negara Barat, gerakan ini mulai populer dan sudah diikuti banyak orang.

Untuk mendukung Pemprov NTB, Pemerintah Desa Dasan Borok Kecamatan Suralaga Kabupaten Lombok Timur berupaya mewujudkan Desa bebas dari sampah organik dan an-organik dengan melaunching program zero waste. 

"Kebetulan hari ini, Rabu (22/01)  mulai kita Launching program zero waste di kantor desa setelah terlebih dahulu dilakukannya soaiaalisisai kepada masyarakat terkait manfaat sampah, dan Alhamdulillah masyarakat sangat antusias dengan program tersebut," jelas Angga Sarimah selaku Kepala Desa Dasan Borok. 

Tak tanggung-tanggung, Pemdes Dasan Borok  mengintegrasikan program Zero Waste  dengan pemberdayaan masyarakat karena melihat adanya peluang bisnis pengolahan sampah yang nantinya bisa membantu dalam hal untuk ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan.

"Selain untuk mendukung program provinsi  dalam rangka menuntaskan masalah sampah yang dikenal dengan Zero Waste, juga dapat menambah prekonomian masyarakat yang di integrasikan dengan program yang ada di Bumdes", imbuhnya. 

Program yang dikelola BUMDES salah satunya yang diintegrasikan yakni pembayaran tv kabel, di dimana masyarakat membayar TV kabel menggunakan sampah plastik, serta pembuatan ekobrik dengan memadatkan botol plastik bekas minuman yang diisi plastik dan putung rokok yang sebelumnya sudah bekerjasama dan  mendapat pelatihan dari Universitas Mataram. 

"Kita ajak masyarakat untuk memasukkan plastik dan putung rokok kedalam botol plastik  sampai padat dan kita akan bayar Rp 2.000 untuk isi plastik dan Rp. 10.000 isi puntung rokok, kemudian dengan botol-botol tersebut nantinya akan dibuat berbagai jenis kerajinan yang memiliki nilai ekonomis seperti kusi, meja, kasur dan sebagainya," ujarnya.

Selain sampah  an-organik yang di buat ekobrik, sampah organik juga menjadi atensi pemdes dengan membagikan 1.600 karung ke masyarakat, dimana masing-masing KK mendapatkan 2 Karung yang organik dan an-organik. Kemudian sampah organik tersebut akan dibuat menjadi pupuk organik dan pakan lele organik. 

"Di tahun 2020 ini kita akan laksanakan program desa yaitu Budidaya Lele dan Bawal (BAPER) dengan mengintegrasikan sampah organik yang di buat menjadi pakan sehingga biaya pakan untuk pelet bisa dikurangi," Kata Angga 

Dengan diterapkannya program ini wilayah Desa  Dasan Borok mulai terlihat bersih bebas dari sampah,  yang semula terlihat kumuh, sampah berserakan dimana-mana . 

"Kita berharap masalah sampah bisa tertuntaskan, program ini juga bisa berkelanjutan dan bisa menjadi Pilot Project sehingga Desa kami bisa menjadi studi banding, dan masyarakat luar bisa belajar bersama dalam hal pengelolaan sampah," Pungkasnya 

Sementara itu salah satu warga Desa Dasan Borok Nur Hidayati mengatakan dengan program yang telah diluncurkan Pemdes Dasan Borok dan berbagai workshop atau pelatihan yang di ajarkan dalam hal pengolahan sampah organik maupun non-organik, semuanya jadi bernilai ekonomis. 

"Alhamdulilah apa yang di upayakan pemdes dalam hal program pemberdayaan kini bisa berjalan, saya bersama masyarakat lainnya bisa memanfaatkan sampah melalui pelatihan yang di berikan, dimana sampah -sampah yang tak ternilai sekarang bisa memiliki nilai ekonomis," tutupnya. (TL/Red).

Laporan: Benn
Editor: Amaq Auliya