logo


Mengenal Hidrometeorologis

Berikut penjelasanya
440 View

Mengenal Hidrometeorologis
Ilustrasi banjir_internet stock

TAJUKLOMBOK. COM - Nusa Tenggara Barat (NTB) mengambil ancang-ancang dalam menghadapi perkiraan adanya bencana Hidrometeorologis yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). 

“BMKG memprakirakan adanya potensi cuaca ekstrim, curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang berpotensi terjadi di beberapa wilayah di NTB hingga tanggal 7 Januari 2020,” kata Pelaksana Tugas Harian BPBD wilayah NTB, Ahsanul Khalik dalam keterangan resminnya yang beredar di sejumlah media, Sabtu (4/1).

Lalu tahukah kita apa itu bencana Hidrometeorologis? 

Sebelum membahas apa itu Hidrometeorologis, ada baiknya kita mempelajari dulu apa itu bencana, jenis dan karakteristik bencana. 

Dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, definisi ‘bencana’ adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Dalam hal ini ada tiga faktor utama berkenaan bencana yaitu pertama peristiwa atau rangkaian peristiwa; kedua masyarakat; dan ketiga dampak.

Berdasarkan definisi tersebut, suatu peristiwa atau rangkaian peristiwa disebut bencana jika menimbulkan dampak pada masyarakat, baik dampak korban luka-luka, meninggal dunia, menderita dan mengungsi. Di samping itu, peristiwa yang berujung bencana dapat juga berdampak pada kerusakan seperti rumah, infrastruktur fasilitas umum, lingkungan, maupun areal tambak, perkebunan atau persawahan.

Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang disebabkan oleh air dan atau cuaca/iklim, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, puting beliung. Sedang bencana geologis adalah bencana yang disebabkan oleh aktivitas lempeng bumi/geologi, seperti gempa, tsunami dan erupsi gunung api.

Menurut catatan BNPB, bencana hidrometeorologi adalah bencana yang paling sering terjadi di Indonesia, yaitu mencapai 98 persen dan sisanya 2 persen bencana geologi dan bencana lainnya.

Namun terkadang, kita sebagai manusia memandang semua bencana bagaikan peristiwa yang terjadi begitu saja, tanpa ada kaitannya dengan kehendak Tuhan Maha Pencipat alam ini, yakni Allah Ta’ala dan tanpa ada kaitannya dengan pembangkangan manusia terhadap Allah Tuhan Pencipta mereka.

Padahal, di dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa: “Dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata “Lauhul Mahfudh.“ (QS: Al An’am : 59) .

Adapun mengenai bencana hidrometeorologis yang diprediksi, manusia hanya bisa memprediksi berdasarkan gejala alam, akan tetapi semuanya bergantung pada qada' dan qadar Alloh SWT. 

Firman Allah Swt, “Wama tadri nafsun madza taksibu ghadan, wama tadri nafsun biayyi ardhin tamut”, (Setiap diri tidak tahu apa yang dikerjakan besok, dan setiap jiwa tidak tahu di bumi mana ia akan dikuburkan)". (QS. Luqman: 34)

Oleh keterbatasan tersebut, dan karena rahasia Allah Swt semata, maka marilah kita pergunakan kesempatan hidup ini dengan meningkatkan ketakwaan kita kepada-Nya dan menambah semangat beramal ibadah yang lebih besar lagi. Mari terus menerus semua kita melakukan introspeksi diri dan muhasabah dalam menyikapi segala sesuatu, adalah sangat perlu bagi kita untuk berkaca diri, menilai dan menimbang amalan-amalan yang telah kita perbuat selama ini.

Sebab, manusia yang tidak pernah bercermin diri bagaikan binatang liar yang terlepas dari jeratan, ia akan berlari dengan sekencang-kencangnya dan melompat dengan sekuat tenaga tanpa menghiraukan kalau itu akan membahayakannya kembali. Manusia yang demikian akan berbuat sekehendak hatinya, tanpa berpikir dan pertimbangan, yang pada akhirnya ia akan terjatuh di tempat yang sama dan meratapi perbuatannya dengan berulang-ulang kali. Sungguh malang nasibnya jika setiap tahun ia harus terjatuh dan terjatuh lagi ditempat/lobang yang sama. (TL/Red).

Oleh: Ahmad Zulkarim, dari berbagai sumber. 

Editor: Amaq Auliya