logo


Mengukur Kembali Tingkat Ke-NW-an Kita

Berikut penjelasanya
212 View

Mengukur Kembali Tingkat Ke-NW-an Kita

TAJUKLOMBOK.COM - Barangkali penting kiranya kita meluangkan waktu sendiri (Baca: Me Time) untuk mendengarkan kembali syair-syair perjuangan NW khususnya yang dikarang langsung oleh Almaghfurlah Maulanasyeikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid, Pendiri NWDI, NBDI, dan NW. Kita dengarkan dengan hati dan pikiran jernih seraya memahami pesan yang terkandung di dalamnya.


Salah satu syair yang menurut saya penting untuk kita simak kembali dan dengarkan berulang kali adalah syair Sumpah dan Bai'at. Di antara bunyi lirik yang terdapat dalam syair Sumpah dan Bai'at tersebut adalah:


Ingatlah! Hai pemuda pejuang Nahdlatul Wathan
Kibarkan panji-panji bendera Nahdlatul Wathan
Tegakkan agama tuhan suburkan taqwa dan iman
Hidupkan persaudaraan melalui Nahdlatul Wathan


Terlihat jelas sekali lewat syair tersebut terdapat beberapa butir perintah kepada seluruh kader Nahdlatul Wathan. Ada perintah untuk mengibarkan panji Nahdlatul Wathan. Ada perintah untuk menegakkan agama berbekal ilmu, iman, dan taqwa. Ada perintah untuk hidup rukun dalam bingkai persaudaraan. Pesan ini pula yang seringkali disuarakan oleh guru kami yang mulia Syekh Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA. dalam ceramah-ceramah beliau.


Untuk itu, benar-benar sangat aneh dan memalukan ketika ada oknum yang mengaku diri orang NW namun melakukan upaya menghalang-halangi, melarang, bahkan sampai melaporkan ke kepolisian kader NW yang sedang berjuang melaksanakan perintah dan mewujudkan cita-cita besar dari Almaghfurlah Maulanasyeikh. Dimuat di berbagai media sehingga menjadi konsumsi publik. Dan mereka terlihat bangga melakukan itu. Astaghfirullahal'aziim.


Tak hanya kader NW. Bahkan, dalam berita di salah satu media cetak yang terbit pada 6 Februari 2021 disebutkan bahwa mereka juga akan melaporkan ke kepolisian salah satu dzurriyat dari almaghfurlah Maulanasyeikh karena hadir di acara NW. Cara ber-NW macam apa ini? 


Dalam berbagai literatur yang mengkaji tentang ke-NW-an ataupun doktrin-doktrin yang ditanamkan oleh para orang tua dan guru-guru kami, tidak ada yang mengajarkan seperti itu. Lantas darimana sumbernya ajaran seperti itu? yang pasti itu bukan berasal dari ajaran Almaghfurlah Maulanasyeikh. Alhamdulillah, guru kami, pimpinan kami Syekh Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA.  juga tidak pernah mengajarkan seperti itu. 


Melihat dinamika yang berkembang belakangan ini. Kok rasa-rasanya apa yang kita pertontonkan dan narasi yang kita suguhkan ke publik telah melenceng dari cita-cita besar pendiri NW yaitu menegakkan agama Allah, menyebar luaskan NW ke segala penjuru alam sesuai dengan bakat dan bidang masing-masing, serta mampu memberikan kontribusi terbaik bagi kemajuan bangsa dan negara.


Apabila narasi konflik antar sesama nahdloh ini terus kita produksi dan konsumsi setiap hari, maka dengan sadar ataupun tidak kita sadari, kita telah menjadi bagian dari orang yang merusak NW yang bersembunyi dibalik klaim perjuangan membela NW.


Apa yang kita lakukan ini hanya akan membuat NW jadi mundur dan jadi bahan tertawaan orang. Bahkan! bisa ditinggal oleh jamaah. Terlebih oleh jamaah dari kalangan millenial dan generasi Z.


Dalam NW, Almaghfurlah Maulanasyeikh telah membuat alat ukur yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat ke-NW-an kita. Alat ukur tersebut adalah:

Inna akromakun 'indi anfa'ukum linahdlatil wathan. Semulia-muliamu di sisiku adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada nahdlatul wathan.
wa inna syarrokum 'indi adhorrukum bi nahdlatil wathan. Dan sejahat-jahatmu padaku ialah yang paling banyak merusak perjuangan nahdlatul wathan.


Jadi, tingkat ke-NW-an kita itu bisa diukur dari seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan untuk kemajuan Nahdlatul Wathan. Bukan dari seberapa banyak kader NW yang dilaporkan ke polisi lantaran menggunakan atribut NW di acara NW.


Selamat berakhir pekan. Mari jaga kewarasan. Jaga imun dan iman serta patuhi protokol kesehatan covid-19 karena pandemi ini masih berada di tengah-tengah kita. (TL/Red).

 

Laporan: Zulbajang
Editor : Bajang Arie