logo


Minta Hearing, Petani Sambelia Terima Jawaban Klasik, Pak Kadis Tidak di Tempat...!

Berikut penjelasanya
759 View

Minta Hearing, Petani Sambelia Terima Jawaban Klasik, Pak Kadis Tidak di Tempat...!
Dokpri AGRA Lotim

TAJUKLOMBOK. COM - Konflik tanah seluas 1.883 hektar, antara petani Sambelia dengan PT. Sadhana Arif Nusa terus menggelinding seakan tak ada batas.

Malang nasib para petani di Kecamatan Sambelia Lombok Timur. Karena masih adanya ketimpangan penguasaan agraria di Nusa Tenggara Barat, yang mengakibatkan begitu banyak penderitaan yang dialami oleh rakyat khususnya kaum tani.

Disisi lain, meski PT Sadhana Arif Nusa sudah mengantongi izin Hutan Tanaman Industri (HTI) sejak 2011 lalu. Namun tidak semerta-merta dengan seenak dengkul untuk leluasa menguasai tanah milik rakyat, karena mereka harus menerima syarat kemitraan yang harus dipenuhi PT Sadhana Arif Nusa untuk bisa dengan leluasa mengeruk keuntungan.

Atas kasus ini, FPR NTB bersama Petani Sambelia Kabupaten Lombok Timur yang tergabung di dalam organisasi Aliansi Gerakan Reforma Agraria Nusa Tenggara Barat (AGRA_NTB) Cabang Lombok Timur dan Serikat perempuan Indonesia NTB (SERUNI_NTB) Cabang Lombok Timur menuntut pada pemerintah daerah agar PT. Sadhana Arif Nusa diusir dari tanah milik petani Sambelia dan izin HTI miliknya dicabut. Serta menghentikan segala bentuk intimidasi dan kriminalisasi terhadap kaum tani Sambelia, hal itulah yang akan menjadi tuntutan ketika menggelar hearing di kantor Dinas Kehutanan Prov.NTB, Senin (21/10).

"Hearing kali ini melibatkan 24 orang pimpinan dan anggota Agra Sambelia dan Seruni Sambelia" kata Sokir selaku Pimpinan AGRA Cabang Lombok Timur.

Dikatakannya bahwa kegiatan hari ini merupakan tindak lanjut dari hearing yang pernah di lakukan pada tanggal 24 September 2019 di kantor Gubenur NTB.

"Maka dengan  itu petani Sambelia pada hari ini kembali melakukan hearing di kantor Dinas Kehutanan Provinsi NTB  untuk meminta bertemu dengan Kadis Dinas Kehutan, akan tetapi jawaban klasik yang kami terima, 'pak Kadis sedang tidak berada di tempat, dengan dalih alasanya sedang di luar kantor, imbuh Sokir. 

Padahal sebelum petani melakukan hearing mereka sudah bersurat ke dinas kehutan lengkap dengan administrasi.

Pak Sokir beserta petani yang lainya  sangat kecewa setelah mendegar dari orang Dinas Kehutanan jika mau menunggu Pak Kadis bisa menemukan peserta hearing jam 17.00 WITA. 

"Padahal kami datang ke kantor Dinas Kehutanan Provinsi NTB dari Sambelia ke Mataram cukup memakan waktu dan meninggalkan aktivitas bertani, peliharaan ternak, akan tetapi kadatangan kami memakan biaya dan sia sia", ungkapnya.

Akan tetapi pak sokir bilang perjuangan kami untuk memminta hearing tidak sampai hari ini,  kami akan melanjutkan hearing yang tertunda hari ini akan kami lanjutkan besok pagi hari Selasa, 22 Oktober 2019 mendatangi kembali kantor Dinas Kehutanan Provimsi NTB.

"Kami tidak akan patah semangat, kami akan kembali besok, sampai pertemuan kami dengan pak Kadis bisa terlaksana", tandasnya. (TL/Red).