logo


Paradigma Baru Peran Mendidik Guru

Berikut penjelasanya
Senin, 22 Jul 2019, 14:39:14, 251 View

Paradigma Baru Peran Mendidik Guru
Interaksi guru dan murid_dokpri Nahar

TAJUKLOMBOK. COM - Posisi dilematis dalam mendidik lahir dalam diri guru dalam menjalankan profesionalisme. Satu sisi guru adalah pribadi penting pembentuk keberhasilan peserta didik, dalam pundaknya terdapat harapan besar menjadikan peserta didik yang gemilang. 

Pada sisi lain guru kapan saja dapat dijerat dengan pidana kekerasan dalam mendidik anak mencapai kegemilangan.

Banyak peristiwa yang menimpa guru dalam menjalankan tugas sebagai faktanya. Pada beberapa daerah guru mendapatkan perlakuan kekerasan dari orang tua dan siswa, ketika guru melakukan tindakan pendisiplinan sebagai upaya internaslisasi nilai dan norma pada peserta didik. Mengapa hal ini dialami guru? Jalan keluar apa yang sebaiknya di perankan guru? 

Masih banyak di temukan orang tua mengkriminalisasi perlakukan guru dalam mendidik. Guru di tempatkan pada posisi salah dalam mengupayakan internalisasi nilai dan norma terhadap peserta didik dalam lingkungan lembaga sekolah sebagai sub kultur yang paling tegas dari beberapa media sosialisasi.
Undang-undang telah merubah cara pandang masyarakat yang secara sadar terpengaruh oleh doktrin perlindungan anak dan HAM dalam pendidikan. Lembaga perlindungan baik milik pemerintah seperti Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), maupun lembaga swadaya masyarakat seperti Komnas Anak dan komnas HAM sering kali terkesan berada pada posisi berseberangan dalam memandang sikap guru dalam mendisiplinkan anak.

Sementara itu kondisi sikap dan perilaku siswa di zaman medsos dan digital kini berada pada situasi yang menghawatirkan.

Perilaku siswa semakin hari mengalami degradasi sikap akibat perkembangan tekhnologi dan informasi. Muncul sikap peserta didik yang menunjukkan gejala permisif dalam melakukan kesalahan. 
Guru dihadapan menjadi pribadi yang kurang di hormati di gugu dan di tiru. Sikap guru dalam mendidiknya sering dimaknai secara negatif sehingga berdampak pada kekerasan di sekolah. 

Persoalan yang paling krusial dihadapi guru adalah tatkala harus memberikan hukuman kepada peserta didik yang melanggar tata tertib dan aturan sekolah dalam rangka menegakkan kedisiplinan. Sering kali guru harus berhadapan dengan hukum karena orang tua dan masyarakat menilainya sebagai tindakan melanggar hak asasi manusia atau melanggar Undang-undang Perlindungan Anak.

Guru  menjadi serba salah jika kasus kekerasan menimpa, muncul penilain kurang professional, kurang memahami hak anak, kurang kreatif menentukan strategi dan model belajar. Disinilah seorang guru harus memiliki kesadaran untuk memahami katagori mendidik yang bukan bagian dari kekerasan dalam mendisiplinkan anak sehingga guru menjadi aman dalam menjalankan tugas. 

Tentu saja sebagai pendidik guru tidak boleh berhenti mengupanyakan pembinaan sikap dan perilaku siswa namun dengan pemahaman dan pendekatan kemajuan. 

Perkembangan tekhnologi, sikap anak, perkembangan dunia pendidikan serta perkembangan HAM dan perlindungan anak harus menjadi satu titik balik dalam memberikan hukuman dalam mendidik.

Guru zaman now harus menyadari bahwa perkembangan modern menjadikan guru selalu mengupgrade pengetahuannya untuk memahami hak dan larangan dengan membaca UU baik Undang Undang tentang perlindungan anak maupun Undang Undang tentang sistem pendidikan serta undang-undang tentang profesinya untuk kemudian memahami pola mendidik.

Paradigma mendidik tanpa kekerasan harus menjadi perhatian bersama dan harus selalu diupayakan. Tentu saja nasehat yang diberikan jauh lebih bermakna dari hukuman fisik maupun verbal yang diterima oleh anak ditengah perlindungan anak dan HAM dewasa ini. Oleh karna itu, guru harus mencurahkan diri untuk belajar cara memperbaiki kesalahan, meluruskan yang bengkok, membersihkan akhlak dan membenarkan pemikiran. 

Mengedepankan pencegahan dari setiap kekerasan dalam mendidik perlu terus diupayakan, memilih menghindari kekerasan dengan nasehat dan cara mendidik non kekerasan senantiasa harus diupayakan. Perlu pemahaman definisi dan praktek oleh guru tentang kekerasan sehingga guru terhindar dari gangguan dalam mengajar dan mendidik. 
Mengikuti realita kekerasan dalam dunia pendidikan, agar anak menjadi disiplin perlu kehadiran guru namun juga perlu kehadiran orang tua. Pelibatan orang tua dalam mendisiplinkan anak dapat menjadi bagian penting membangun pendidikan yang nir kekerasan. Untuk tujuan ini orang tua dan sekolah perlu duduk bersama. Selanjutnya sekolah membuka diri melalui berbagai layanan  pengaduan 
Kekerasan dalam dunia pendidikan tidak boleh terjadi dalam berbagai bentuknya baik kekerasan verbal, fisik maupun psikis. Menguasai pengetahuan dengan baik serta pengajaran dengan baik harus diupayakan sehingga peserta didik benar-benar menjadi peserta didik yang butuh belajar. Guru hendaknya menyadari bahwa ketika ia mengajar tidak serta merta murid belajar hal ini membutuhkan penguasaan strategi dengan baik oleh guru. 
Jika peyimpangan terjadi guru harus dapat memanfaatkan fungsi dari BP/BK dalam setiap masalah yang terjadi dalam kelas atau mungkin dengan memanggil orang tua dalam menangani anak yang bermasalah sebagai wujud peran serta orang tua dalam satuan pendidikan.
Apapun kenyataannya guru harus terus menjadi pendidik bagi generasi masa depan bangsa dengan selalu berkreasi untuk menemukan cara-cara mendidik yang ramah anak dan mencegah kekerasan terhadap anak.

Oleh karena itu, guru harus memahami point-point penting tentang katagori tindak kekerasan dalam mendidik anak sehingga tidak tergiring menjadi tersangka. Ditengah perubahan teknologi, perubahan sikap anak dan perubahan paradigma dunia pendidikan, menjadi perlu pemahaman terhadap sikap mendidik zaman modern. 

Perlindungan anak dalam mendisiplinkan anak harus menjadi sebuah paradigma baru bagi guru dalam mendidik sehingga guru sebagai pendidik terhindar dari masalah hukum. Selain itu mendidik tanpa kekerasan bukan hanya akan melindungi guru akan tetapi sebuah cara melahirkan anak yang tidak keras. Di tengah perubahan model pembelajaran dan perilaku siswa serta perkembangan modern, guruku apapun perubahan yang terjadi teruslah menjadi pigur pendidik yang memahami perkembangan yang terjadi untuk membangun paradigm baru mendidik. Demikian, Wallahualam. (TL/Red).
        Penulis :NAHARUDDIN,S.S. Guru SMAN 1 SAKRA TIMUR, ALUMNI JURUSAN SEJARAH UGM 
ALAMAT    :BATU LAWANG, DESA MENCEH,SAKRA TIMUR