logo


PELITA Indonesia, Penolakan Nama Bandara Menggunakan Sentimen Primordial

Berikut penjelasanya
Senin, 18 Nov 2019, 00:24:33, 569 View

PELITA Indonesia, Penolakan Nama Bandara Menggunakan Sentimen Primordial
Dokpri

TAJUKLOMBOK. COM - Gelombang kecaman terhadap penolakan penggantian nama bandara terus berdatangan, seperti yang dilontarkan oleh Chief Executive Officer (CEO) Pusat Penelitian Pariwisata Indonesia yang nengatakan bahwa hal tersebut telah mencederai cara berfikir masyarakat Lombok Tengah.

"Tentu saja, melihat gerakan penolakan nama bandara yang menggunakan nama pahlawan nasional itu telah menciderai cara berfikir masyarakat Lombok Tengah", kata Hilmi selaku Ketua Pusat Penelitian Pariwisata (PELITA) Indonesia melalui keterangan resminya di Bali yang diterima redaksi Tajuklombok. Com, di Mataram Ahad (17/11). 

Lebih lanjut, Hilmi menjelaskan bahwa penolakan Nama Bandara tersebut menggunakan sentimen primordial sehingga sangat kental dengan kepentingan pribadi.

"Saya fikir, polemik ini adalah representasi kapasitas kognitif yang masih sempit “ini masih menggunakan sentiment primordial yang dapat merusak tatanan bermasyarakat” seharusnya pemerintah daerah sebagai aktor yang menggerakkan semangat kolektif dalam pembangunan, bukan mengajak rakyat untuk menjulurkan lidah,"sambungnya.

Dikatakannya, saat ini Lombok Tengah sedang “sexy” sebagai primadona pembangunan pariwisata, pemerintah pusat telah mengucurkan dana yang besar, cara-cara semacam ini dapat mengganggu stabilitas pariwisata Lombok Tengah, karena kondusifitas politk yang tidak stabil. 

"Buat apa capek-capek menggerakkan massa untuk demo, masih banyak tugas pak bupati yang lebih konstruktif untuk dikerjakan," tegasnya.

Ia memaparkan banyak sekali PR bupati yang masih belum diselesaikan, malah sekarang lebih mengutamakan penolakan penggantian nama bandara.

"PR bupati itu banyak, pembangunan sumber daya manusia, infrastruktur yang masih lemah, pembebasan lahan di sirkuit motor GP masih belum tuntas, seharusnya itu yang menjadi fokus pemikiran pemerintah Daerah", papar Hilmi. 

Menggunakan nama pahlawan sebagai nama bandara itu wajar dan lumrah di semua tempat, apalagi pahlawannya adalah putara daerah itu sendiri. 

"Saya masih belum menemukan logika yang tepat sebagai pijakan teman-teman dalam menolak, saya justru berfikir bahwa penolakan ini adalah “mekanisme kultural untuk mempolarisasi ummat demi kepentingan politik 2020 mendatang”, tutupnya. (TL/Red).