logo


Potret Pendidikan Indonesia Di Era Dunia Maya

Berikut penjelasanya
100 View

Potret Pendidikan Indonesia Di Era Dunia Maya
Abdurrahman S. Pdi_foto dokpri Rahman

TAJUKLOMBOK. COM - Kata orang kita sedang hidup di era Revolusi Industri 4.0. Istilah ini memang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat indonesia, seiring berkembangnya teknologi dan informasi yang terjadi begitu cepat. Jika dulu kita masih mengandalkan tenaga manusia dalam proses produksi barang. Namun saat ini barang bisa dibuat dengan menggunakan mesin dan berteknologi canggih. Perdaganganpun saat ini sangat banyak dan begitu menjamur para pelaku usaha menggunakan teknologi secara online. Kebutuhan apapun, selama kita mampu membelinya maka cukup hanya ketikan jari jemari di HP maka semua tersedia. Semua pemenuhan kebutuhan kini sudah tersedia secara digital, mulai dari jual-beli, jasa seperti Gojek dll, hingga transaksi pembayaran dalam berbagai bentuk.

Kini teknologi sudah jauh masuk dalam ruang kehidupan manusia tampa batas. Mulai dari interkasi sosial hingga interaksi spiritual kepada Tuhan, kini semua dalam genggaman teknologi. Kita tentu masih ingat kasus seorang perempuan asal Lombok Tengah NTB beberapa waktu yang lalu melaksanakan sholat sambil berjoget dengan menggunakan aplikasi TikTok. Hingga yang bersangkutan harus berurusan dengan aparat penegak hukum karena membuat gaduh banyak pihak. Dia dianggap mempermainkan ibadah sholat yang merupakan salah satu ibadah pokok dalam ajaran islam. Hanya lantaran ingin viral di dunia maya hingga sholatpun dipermainkannya.

Akhir-akhir ini juga kita dihebohkan dengan berbagai macam bentuk perilaku pernikahan dengan maskawin yang beragam dan unik. Mulai dari maskawin dalam bentuk sandal jepit, kain kafan hingga butiran telur. Memang tampak unik namun terkesan mempermainkan makna dari sebuah pernikahan yang syar'i. Dalam ajaran islam pernikahan merupakan perkara yang sangat sakral dan sunnah yang utama. Mahar atau Maskawin dalam pernikahan merupakan perkara penting karena merupakan bagian dari rukun pernikahan. Sehingga nilai dan substansi dari mahar akan hilang jika dia dijadikan ajang untuk mencari ketenaran di publik maupun viral di dunia maya sosial media seperti yang terjadi akhir-akhir ini.

Dari sederetan kasus di atas merupakan sebuah gambaran nyata bahwa dampak dari media teknologi tidak bisa di anggap sepele. Bahkan pergaulan dan perilaku anak muda masa kini banyak dipengaruhi oleh tontonan dan segala informasi yang bersumber dari media sosial. Mereka begitu cepat mengikuti perilaku dan gaya hidup yang sedang viral di media sosial  tampa melihat substansinya apa, manfaatnya apa dan mudaratnya apa.

Dalam konteks ideologipun demikian, anak-anak muda begitu cepat terpengaruh oleh aliran-aliran garis keras.

Mudah menyalahkan dan bahkan mengkafirkan orang lain yang berbeda pemikiran dengannya. Sebabnyapun sederhana, hanya karena tontonan dan ajakan di you tube media sosial. Mengatasnamakan Islam, jihad, amar ma'ruf nahi mungkar dan sebagainya. Namun ujung-ujungnya justru bertindak tidak sesuai dengan ajaran Islam yang Rahmatan Lil'alamin. Ustaz-ustaz media sosial bertebaran muncul dipermukaan dianggap sebagai ulama untuk dijadikan panutan, sedangkan ulama-ulama yang mashur yang lahir dari rahim ormas-ormas besar seperti Muhmmadiyah, NU, NW dan ormas lainnya dianggap biasa. Itulah potret generasi indonesia saat ini yang tergerus oleh bahaya teknologi media sosial.

Dari sederetan kasus tersebut bukan berarti media teknologi tidak memiliki nilai positif. Justru ketika kita cerdas dalam menggunakan media sosial maka kita akan menjadi orang yang memiliki wawasan yang luas. Segala bentuk aktifitas akan terbantu, lebih mudah dan cepat. Adapun hal negatif yang diakibatkan oleh media sosial, tentu itu merupakan tugas kita bersama, baik pemerintah maupun masyarakat secara umum. Bahu-membahu saling mengingatkan, meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi akibat penyalahgunaan media sosial. Tentu caranya dengan penuh kebaikan adab dan kelembutan yang mencerminkan ajaran Islam yang Rahmatan Lil'alamin.

Disinilah pentingnya pendidikan awal dilingkungan keluarga, bagaimana menanamkan karakter kepada anak. Jika karakter anak sudah tertanam kuat sejak dini didalam lingkungan keluarga maka hal itu diharapakan bisa menjadi modal awal anak untuk menjadi bekal dalam berinterkasi dilingkungan sosial masyarakat secara umum.

Disamping lingkungan keluarga yang baik, dibutuhkan pula lingkungan sosial yang baik. Dilingkungan sosial lah tempat anak-anak bergaul, tumbuh besar dan berkembang. Sehingga ada ungkapan yang menyatakan "jangan melihat orang, dari mana dia lahir tapi lihatlah dengan siapa dia bergaul". Ungkapan ini memberi gambaran akan besarnya pengaruh lingkungan sosial terhadap perilaku anak.

Kita berharap dari lingkungan kita masing-masing akan lahir generasi yang cerdas dan berahlak mulia yang dilandasi oleh keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga terbebas dari pengaruh arus teknologi dan informasi yang sedang terjadi.
Mataram, 28 Juli 2020. (TL/Red).

Oleh: Abdurrahman, S.Pd.I

Editor : Amaq Auliya