logo


Ritual Bubur Beaq Obat Untuk Rasa Khawatir

Berikut penjelasanya
126 View

Ritual Bubur Beaq Obat Untuk Rasa Khawatir
Pelaksanaan ritual adat bubur beaq_Tajuklombok/ist

TAJUKLOMBOK. COM - SAKRA, Awan hitam tipis tampak menggantung menghiasi langit. Tak plak dunia jadi diselumti mendung. Sesekali angin berhembus halus, menjadikan suasana sedikit sejuk. 

Dari tempat ibadah terdengar suara lantunan ayat-ayat Alqur'an, menandakan waktu Ashar akan segara tiba. Tak heran sebagian orang bergeges untuk mendatangi tempat biasa beribadah. 

Dari masjid bengan (tua, red) dan lokasi ibadahnya lainnya, terdengar suara adzan. Tak berselang lama disambut dengan lantuanan hikomat yang tak kalah merdu. Menandakan shalat wajib Asar bisa dilaksanakan.

Tak lama setelah perintah wajib dan rangkaiannya selesai dikerjakan, biasanya jemaah pulang. Namun disore bulan Shafar itu, ada pemandangan yang berbeda. 

Jemaah di masjid bengan tak lansung pulang, namun membentuk lingkaran. Bagi laki-aki tetap didalam masjid yang ukuran 9x9 meter, sedang yang perempuan duduk rapi di teras masjid.

Tak lama berselang nampak orang yang membawa bokor bersisi sesangan beriring dulng dan cawan yang berwana kuning emas, dan air kembang setaman. Semua itu untuk syarat dan rukun dalam pelaksanaan ritual adat Bubur Beaq.

Bubur Beaq bagi masyarakt Desa Songak, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur, merupakan hal yang penting bagi ia yang lahir di bulan Shafar. Di desa tersebut ada mitos ditengah masyarakat bagi yang lahir di  candra tersebut, akan mengalami gundah. 

"Jadi sebelum melaksanakan ritual ini, bagi warga yang hidup di bulan Shafar akan mengalami kegundahan," kata Tokoh Adat Desa Songak, Murdiyah, Kamis Sore (0/9)

Ritual Bubur Beaq, beber Guru Mur, dilaksanakan sejak dulu, dan pelaksanaan ritus tersebut di masjid tua. Ritual ini, jelasnya, dilaksanakan pada bulan Shafar. 

Bulan Shafar dalam kalender Hijriyah, bagi masyarakat merupakan bulan Bubur Beaq. Lantaran pada bulan itulah dilaksankannya ritus yang menjadi obat gundah bagi masyarakat setempat.

Sampai saat ini, bebernya, ada keyakinan berkembang bagi yang lahir dibulan itu hendak mengalami gundah saat candra itu datang. Perasaan tersebut tak akan berakhir sebelum melaksanakan ritual tersebut. 

Jika bulan ini tiba, sebutnya, sebagian warga dihantui rasa gundah dan khawatir, tanpa tahu apa yang dikhawatirkan. Buntutnya, mengalami depresi, malasa kerja, cepat marah dan lainnya. 

"Sebab itu orang yang lahir di bulan ini melalsanakan ritual ini," ujar pria yang akrab disapa Guru Mur ini

Dia menceritakan, dulu tradisi ini sempat tak tampak lagi pelaksanaannya di masjid tua. Namun hanya dilaksanakan di rumah-rumah warga yang berhajat. Namun pada tahun 2000 barulah ritus ini dilaksanakan kembali ketempat semula. 

Dalam tradisi apa pun, bebernya, di Desa Songak, masjid tua menjadi titik pelaksanaan ritual tersebut. Seperti ritus maulid adat jarig (buat, red) minyak, Bejango, bubur Putik, Bubur Beaq, neda, mangkat dan ritual yang lainnya. 

Pelksanaan ritual bubur putik, terangnya, harus dilengkapi dengan sesangan dan sangan, yang merupakan rukun wajib disetiap pelaksaan ritual di Desa Tua tersebut. Sanganan dalam ritual ini, berupa bubur berwarna merah yang terbuat dari beras, ketan, gula merah dan lainnya. Yang dilengkapi dengan air setaman, untuk di minum, basuh muka dan membasahi kepala.

Ritual ini, diisi dengan puji-pujian pada Allah sebagai penguasa tunggal. Dengan cara berdzikir, bershalawat, berdo'a sesuai dengan niatan.

"Sampai saat ini, masyakat percaya sampai saat ini kepercayaan itu masih ada," ujarnya

Camat Sakra, M Subhan pada sambutannya mengatakan, setiap tradisi itu perlu terus dilestarikan. Ia tak menapikan banyak tradisi yang hilang ditengah masyarakat. 

Padahal hal tersebut, merupakan warisan bukan untuk bermaksud untuk keluar dari agama. Malah, sebutnya, semua tradisi yang ada bersendikan agama. 

"Ini harus dipelihara dengan baik, ini ruang silaturohim bagi kita semua. Pesan saya bagi warga, untuk tetap matuhi protokol kesejatan ketika berkegiatan dan pakai masker," uajrnya (TL/Kin).

Editor : Amaq Auliya