logo


Ritual yang Terlupakan: Ngayuayu Sentulak Bahle

Berikut penjelasanya
1130 View

Ritual yang Terlupakan: Ngayuayu Sentulak Bahle
Prosesi Persiapan Ngayuayu Sentulak Bahle

TAJUKLOMBOK.COM - Jika melihat fenomena yang terjadi selama 1 tahun terakhir ini, tentu kita tiba  pada satu hipotesis sementara yaitu kita sedang dihadapkan dengan "Tahun Bencana". Bagaimana tidak, satu persatu bencana seolah-olah bergiliran mendatangi kita, bukan hanya di Indonesia saja namun beberapa tempat diseluruh penjuru dunia juga mengalami hal yang serupa. Masih segar diingatan kita Rangkaian Gempa Besar yang terjadi Di seluruh dunia termasuk di Pulau Lombok yang diguncang Gempa selama 2 Bulan penuh, tsunami yang menimpa Palu dan sekitarnya, serta tragedi jatuhnya pesawat Lion Air. Rangkaian musibah yang terjadi di tahun yang sama ini memang jika dilihat dari kaca mata Agama tentu adalah hak prerogatif sang Kuasa, namun apakah manusia tidak memiliki andil sebagai kontributor penyebab terjadinya rentetan peristiwa itu?
 Dasar inilah yang melatar belakangi salah satu Paguyuban  Adat Tertua di pulau Lombok , yaitu Bale Beleq Palung Marine/Puser Bumi untuk melakukan sebuah tindakan. Sebuah Ritual untuk mengajak seluruh manusia di Bumi ini untuk kembali merenung dan bercermin pada diri sendiri. Ritual tersebut dinamai oleh masayarakat setempat sabagai Ngayuayu Sentulak Bahle. 
Upacara adat suku sasak di Dasan Palung Desa Suwangi Kecamatan Sakra,  ini memang merupakan warisan turun temurun leluhur yang belakangan ini memang tidak pernah mendapat atensi besar publik. Mungkin sebagian masyarakat awam malah mengatakan hal ini berbau sirik karena kental dengan nuansa mistis. Namun hal itu dijawab langsung oleh Ketua Bale Beleq Palung Marine, Guru Muhammad Ali."bahwa kita tidak boleh lupa warisan Leluhur kita yaitu Islam dan Adat. Jika bebicara tentang Adat Sasak tentu tidak bisa dipisahkan dengan Islam, karena ajaran islam lah yang menjadi nafas dari segala macam kebudayaan dan adat sasak". 
Jika dikaji lebih dalam memang adat sasak selalu berjalan beriringan dengan ajaran leluhur suku sasak yang sangat menekankan untuk selalu mengkaji diri untuk mengenali dan lebih dekat dengan sang Khalik serta mengenali seluruh makhluk ciptaan-Nya baik yang nyata maupun yang astral. Lewat ritual Ngayuayu Sentulak Bahle ini diharapkan masyatakat Sasak pada khusunya dan seluruh manusia pada umumnya agar tetap bersyukur dan menjaga alam serta hubungan dengan sesama manusia untuk menjaga keselarasan Alam. 
Yang menjadi daya tarik dari Ritual Adat ini adalah rangkaian prosesi adat yang dimulai dari Bisoq Beras (cuci beras yang akan digunakan dalam acara) dalam acara awal ini masyarakat dasan Palung melaksanakan parade iring-iringan dari lokasi acara Bale Beleq menuju Lingkok (sumur tua) untuk membersihkan Beras yang akan digunakan sebagai bahan utama Bubus setelah itu beras dibawa kembali ke Bale Beleq untuk dipersiapkan pada ritual pembuatan bubus pada malam hari. Selanjutnya prosesi dilanjutkan selepas waktu Isya, dimana para wanita yang telah ditunjuk oleh Tetua akan melaksanakan Pembuatan Bubus. Ada hal menarik yang bisa kita temukan pada ritual ini, yaitu pembuatan tiga jenis bubus ini harus diiringi oleh alunan lagu yang dimainkan oleh Grup Gong Gendang Betep. Masing-masing bubus harus diiringi oleh musik yang berbeda, untuk bubus pertama diringi oleh 1 lagu, bubus ke-dua diiringi oleh 2 lagu, dan bubus ke-tiga dengan 1 lagu. Salam setiap lagu, para wanita pembuat bubus akan bernyanyi sambil menari secara bergantian. Setelah semua bubus rampung kemudian disimpan di Bale Beleq untuk dibagikan keesokan harinya pada masyarakat yang menginginkan dan luar biasanya bubus ini ampuh mengobati berbagai macam penyakit, bisa juga untuk menjauhkan tanaman dari serangan hama serta untuk berbagai kebutuhan manusia.
Ritual puncaknya adalah Talet Otak Kao (Penanaman Kepala Hewan Kurban pada lokasi telah ditentukan oleh Tetua Adat). Pada acara ini yang dikorbankan adalah seekor kerbau Jantan, kenapa menggunakan kerbau? Sebenarnya tidak mesti menggunakan Kerbau, karena penentuan jenis hewan yang dikurbankan adalah sesuai tingkat bencana yang terjadi. Hakikatnya upacara ini ditujukan untuk memohon pada Tuhan agar meringankan bencana bukan untuk memohon agar tidak terjadinya bencana, karena hanya Allah SWT yang memiliki hak preroggatif, namun kita sebagai manusia juga memiliki peran disana ujar sang Guru Ali. 
Sayangnya kegiatan yang mungkin bisa menjadi salah satu aset wisata budaya ini sama sekali tidak mendapat dukungan dari pemerintah setempat, untuk memenuhi kebutuhan akomodasi acara ini saja, Bale Beleq hanya memperoleh sumbangan seikhlasnya dari masyarakat yang datang dari penduduk setempat bahkan ada juga yang berasal dari luar desa juga turut membantu terlaksananya ritual Slamat Bumi. (tl_opi)