logo


Stunting Jadi Isu Nasional, NTB Zona Merah!

Berikut penjelasanya
1188 View

Stunting Jadi Isu Nasional, NTB Zona Merah!
Peta Masalah Kesehatan Masyarakat Berdasarkan Indeks PB.TB/U NTB 2017

TAJUKLOMBOK.COM - Stunting adalah sebuah kondisi dimana pertumbuhan pada anak terganggu akibat kekurangan gizi kronis sehingga mengakibatkan anak terlalu pendek untuk usianya. Menurut WHAO-MGRS (Multicentre Growth Reference Study ) tahun 2006 bahwa standar baku balita dikatakan  pendek (stuned) apabila nilai z-scorenya kurang dari -2SD dan sangat pendek (severely stuned) bila nilai z-scorenya kurang dari -3SD. (Kepmenkes 1995/MENKES/SK/XII/2010) kekurangan gizi ini dialami oleh balita sejak di dalam kandungan, namun Stunting akan terlihat setelah anak berusia 2 tahun. Ada tiga faktor utama yang menyebabkan stunting, yakni sanitasi, pola makan, dan pola asuh. Dari tiga segi inilah penyebab stunting.

Indonesia sebagai negara kepulauan masuk dalam negara dengan status stunting yang mengkhawatirkan. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, 37% anak berumur di bawah lima tahun di Indonesia, atau hampir sembilan juta anak, mengalami stunting. Padahal, batas toleransi dari WHO adalah maksimal 20% atau seperlima dari jumlah balita yang ada.  Dari data tersebut, Indonesia menempati posisi kelima terbanyak di dunia setelah Tiongkok, India, Negeria dan Pakistan.

Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), pemerintah menargetkan penurunan prevalensi stunting hingga dari angka 37% pada tahun 2013 menjadi 28% pada 2019. Sementara situasi stunting di Indonesia hingga tahun 2017, tingkat prevalensi stunting masih mencapai 36%.

Dan untuk NTB, angka penderita stunting tergolong tinggi, yaitu peringkat ketiga dari 33 provinsi. Nusa Tenggara Barat, masuk zona merah kasus stunting di Indonesia. Tercatat 47 persen balita usia 0-2 tahun mengalami kasus stunting.

Berikut data stunting NTB menurut rilis Dinas Kesehatan Provinsi NTB sebagimana penelusuran crew tajuklombok.com di akun resmi Dikes Prov. NTB: [email protected]

1

NTB

LOMBOK BARAT

GERUNG

 

MESANGGOK

2

NTB

LOMBOK BARAT

SEKOTONG

 

BUWUB MAS

3

NTB

LOMBOK BARAT

SEKOTONG

 

GILI GEDE INDAH

4

NTB

LOMBOK BARAT

GUNUNG SARI

 

MAMBALAN

5

NTB

LOMBOK BARAT

GUNUNG SARI

 

PENIMBUNG

6

NTB

LOMBOK BARAT

LINGSAR

 

LANGKO

7

NTB

LOMBOK BARAT

LINGSAR

 

BATU MEKAR

8

NTB

LOMBOK BARAT

LEMBAR

 

LEMBAR

9

NTB

LOMBOK BARAT

KURIPAN

 

KURIPAN

10

NTB

LOMBOK BARAT

KURIPAN

 

JAGARAGA

11

NTB

LOMBOK TENGAH

BATUKLIANG

 

MANTANG

12

NTB

LOMBOK TENGAH

PUJUT

 

SUKADANA

13

NTB

LOMBOK TENGAH

PUJUT

 

MERTAK

14

NTB

LOMBOK TENGAH

PRAYA BARAT

 

BANYU URIP

15

NTB

LOMBOK TENGAH

PRAYA BARAT

 

SELONG BELANAK

16

NTB

LOMBOK TENGAH

PRAYA BARAT

 

MEKAR SARI

17

NTB

LOMBOK TENGAH

PRAYA TIMUR

 

SUKARAJA

18

NTB

LOMBOK TENGAH

PRAYA TIMUR

 

MARONG

19

NTB

LOMBOK TENGAH

PRAYA TENGAH

 

DAKUNG

20

NTB

LOMBOK TENGAH

BATUKLIANG UTARA

 

TERAKTAK

Dan untuk Pulau Sumbawa, Dompu menjadi lokus dari stunting ini, seperti yang dinyatakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Dompu Juwita Kastianti kepada detikcom, Senin (23/4/2018).

“Data Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Dompu mencatat 10 desa mengalami kasus stunting pada balita, yakni Desa O’o, Katua, dan Dorebara di Kecamatan Dompu; Desa Cempi Jaya dan Desa Jala di Kecamatan Hu’u; Desa Mumbu dan Desa Bakajaya di Kecataman Woja; Desa Sorinomo dan Nanga Kara di Kecamatan Pekat; serta Desa Ranggo di Kecamatan Pajo”katanya.

Dari hasil penelusuran crew tajuklombok.com dilapangan ketika menemui korban, PKH, dan personil kesehatan. Ditemukan bahwa penanganan pemerintah mengenai stunting sudah sangat komplit, akan tetapi faktor SDM yang lemah bisa jadi pemicu gizi buruk yang berujung pada stunting.

“SDM masyarakat kita yang rendah” kata nara sumber tajuklombok.com yang tidak mau disebutkan namanya.

Dia juga menambahkan “Pemerintah harus bagaimana lagi terhadap keluarga korban, dikasi MPASI amaqn kaken jeri sedakn ngupi lek bangket, tebeng telok jualn kedu beli ges, pas tetegur sik petugas, enteng sikn bejawab “pemerentah bengn ite katakn doang, sikt yak pemasak ndarak jari jualk lah telok no” jelas nara sumber menirukan nada bicara ibu korban stunting dibagian selatan Lombok.

Dari sini nampak siapa yang bertanggung jawab terhadap bayi yang nantinya mengantarkan dia menjadi tumbuh sehat atau sebaliknya adalah kontribusi orang tua yakni sebesar 86% menurut konsep HL. Bloom. (cr/Abdul_K)