logo


Tak Meski Menunggu Kaya Untuk Berwira Usaha

Berikut penjelasanya
214 View

Tak Meski Menunggu Kaya Untuk Berwira Usaha
Dokpri

TAJUKLOMBOK. COM - Sesuatu yang kecil itu tidak bisa kita pungkiri keadaannya, akan tetapi jika sesuatu yang kecil itu bisa kita manfaatkan dan mengelolanya dengan kesungguhan, maka tidak heran jika semua itu bisa menjadi memuaskan dan membuahkan hasil yang maksimal sesuai harapan.

Untuk itu, kali ini saya akan menceritakan hasil interview sekaligus wawancara saya terhadap salah satu pedagang yang ada di Desa Jambatan Kembar, Dusun Baturimpang Utara, Kecamatan Lembar kabupaten Lombok Barat. Pedagang tersebut bernama Bapak Jamaludin dan Ibu Rosana, mereka adalah sepasang suami istri yang baru saja menikah di tahun 2020 pada bulan Juni tanggal 24, mereka juga merupakan alumni dari kampus UNU NTB dan UIN Mataram. Bapak Jamaludin alumni UIN Mataram dan ibu Rosana Alumni UNU NTB, tidak hanya itu Bapak Jamaludin dan ibu Rosana pun pernah mengenyam ilmu di pesantren yang sama yaitu Pondok pesantren NU Darunnadwah, Dasan Ketujur Timur Kabupaten Lombok Barat. Mereka satu pesantren namun tingkat usia mereka berbeda, yang mana Bapak Jamaludin kini berusia 27 tahun karena lahir pada tanggal 31 Desember 1994, sedangkan Ibu Rosana berusia 25 tahun karena lahir pada tgl 05 April 1996.

Berdasarkan hasil interview dan wawancara dapat diketahui bahwa bapak jamaludin dan ibu Rosana berjualan sembako belumlah begitu lama karena mereka memulai usaha mereka pada bulan agustus tanggal 01 tahun 2020 pasca menikah, mereka memulai usaha tersebut dengan niat karena allah hingga akhirnya mereka memberanikan diri untuk mengeluarkan modal yang cukup besar yaitu 8 jt rupiah. Uang yang 8 jt rupiah tersebut tidak hanya mereka gunakan untuk membeli sembako saja namun lengkap dengan etalase dan yang lainnya. 

Hari demi hari terus berjalan rintangan dan tantangan dalam berwira usaha itu pasti ada, hambatan hambatan berupa kerugian atau minimnya penghasilan merupakan hal yang lumrah dalam menjalankan sebuah usaha. Hal-hal tersebut sudah pernah dialami oleh bapak Jamaludin dan ibu Rosana namun semua itu tak lantas membuat mereka menyerah atau pun pasrah, mereka selalu menggunakan image mereka sebaik-baik mungkin dan selalu berusaha menciptakan inovasi inovasi baru dalam usahanya sehingga mmbuat orang orang menjadi tertarik, terutama dalam madalah harga, bapak jamaludin dan ibu Rosana tidak pernah berdagang dengan mengambil untung yang lebih dari 1/2 ribu rupiah, oleh sebab itu banyak orang-orang yang berdatangan berbelanja ditokonya. Berdasarkan hasil interview juga dapat dilihat bahwa toko bapak Jamaludin dan ibu Rosana tidaklah begitu besar sebagaimana toko-toko yang semestinya, toko mereka sangat sederhana dan kecil, namun meskipun begitu keperluan mereka selalu tercukupkan. 

"Berwirausaha itu tak harus menunggu kaya namun keberanian itulah yang sangat perlu untuk kita melangkah menjadi orang kaya, segala sesuatu itu pun akan selalu ada jalannya," ungkapnya.

Iapun mengutip sebuah sya'ir "FI AINA TURIDU FITTORIQI" Yang artinya dimana ada kemauan disitu ada jalan dan seperti bahasa inggrisnya " Where there is will there is way".

Masya Allah kata-kata mereka sangat menginspirasi dan ditambah lagi dengan keinginan mereka yang ingin punya cabang untuk usaha mereka, mereka dari sejak sekarang menabung setiap hari 20.000 rupiah dari hasil jualan mereka setiap hari, mereka berprinsip bahwa tidak ada yang tidak mungkin selagi kesungguhan itu selalu ada.

"Man jadda wajada. Sedikit demi sedikit pasti menjadi bukit." tegasnya.

Bahkan tak hanya itu mereka pun ingin memperluas usaha wifinya karena kebetulan mereka tidak hanya membuka toko namun mereka punya wifi juga, wifi mereka terpasang sebanyak 6 di dusun yang berbeda-beda dan penghasilannya pun berkisar antara 3 - 4 juta rupiah/bulan, usaha wifi tersebut dimulai sebelum mereka menikah pada tahun 2020 bulan Februari dengan modal 4 juta rupiah. 

Alhasil dari perjuangan dan keberanian mereka kini usaha mereka berkembang. Disamping itu pun selain berwirausaha mereka pun berprofesi sebagai seorang guru, bapak Jamaludin guru Agama di Pesantren Darunnadwah dan ibu Rosana seorang guru kelas di SD GIS Ulul Albab Tanjung Gunung Gerung. 

Begitulah insan pasti memiliki kriteria dan cara tersendiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya salah satunya dengan cara berwira usaha, tak perlu tunggu kaya namun harus berani berkarya mnciptakan inovasi-inovasi baru. Begitulah sekelumit hasil interview dan wawancara saya, semoga bermanfaat dan semoga kita bisa menjadi seorang pengusaha yang kreatif dan jauh lebih baik dari mereka. (TL/Red).

Oleh : M.Tohri Tauhid (MAHASISWA FE UNU NTB) Berdasar penutiuran Pak Jamal & ibu Ana.

Editor : Amaq Auliya