logo


TEFA Jalan, SMKN 2 Kuripan Tunggu Status Jadi BLUD

Berikut penjelasanya
590 View

TEFA Jalan, SMKN 2 Kuripan Tunggu Status Jadi BLUD

TAJUKLOMBOK. COM - Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai salah satu lembaga pendidikan menengah yang bertujuan untuk mempersiapkan tenaga kerja tingkat menengah yang berkualitas perlu menggali sumber dan potensi yang ada di daerah sesuai dengan kebutuhan pasar. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mencapai tersebut adalah dengan melaksanakan program Teaching Factory (TEFA) di sekolah.

Dan SMKN 2 Kuripan sebagai salah satu SMK yang ada di Lombok Barat telah melakukan TEFA sejak lama, mengadakan kemitraan dengan pihak industri.

"Ketika datang kesini, semua sudah berjalan dengan baik. Tinggal melanjutkan apa yang sudah diprogramkan oleh kepala sekolah yang lama," ungkap Rias Sandi Miswardani, SE. Kepala SMKN 2 Kuripan yang baru-baru ini dilantik saat ditemui di ruangannya, Sabtu (28/8/2021).

Untuk diketahui, Program Teaching Factory adalah suatu konsep pembelajaran di SMK berbasis produksi atau jasa yang mengacu kepada standar dan prosedur yang berlaku di industri. Program ini dilaksanakan dalam suasana seperti layaknya industri. Implementasi Teaching Factory di SMK dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industri dan kompetensi yang dihasilkan oleh sekolah.

"TEFA itu sederhananya, kami yang membuat orang lain yang menggunakan," imbuh Rias sapaan akrabnya.

Dijelaskannya, saat ini sekolahnya sedang memproduksi baut pesanan dari mitra industri SMKN 2 Kuripan yang ada di Lombok Tengah.

Tertarik dengan penjelasan tersebut, kemudian Rias Sandi mengajak kami untuk melihat bagaimana membuat baut di bengkel tehnik.  Disana kami bertemu Bapak Sunardi guru tehnik mesin SMKN 2 Kuripan dan beberapa guru yang lain serta dua orang siswa yang baru saja selesai membuat baut. 

Sunardi menjelaskan bahwa, dengan mesin yang baru anak didiknya bisa memproduksi baut sampai 2000 biji perhari, dibanding dengan penggunaan mesin manual.

"Dengan mesin ini, satu baut menghabiskan waktu satu menit. Beda dengan yang manual, satu baut bisa setengah jam baru selesai, itupun bagi orang yang sudah sangat mahir menggunakannya," ungkap Sunardi.

Dengan sudah berjalannya TEFA di SMKN 2 Kuripan, Rias Sandi berharap sekolah yang kini dipimpinnya, bisa berubah bentuk jadi SMK Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). 

"Sudah kami ajukan, tinggal menunggu persetujuan gubernur. Ada sekitar 15 SMK yang akan menjadi percontohan, semoga salah satunya adalah kami," harap Rias.

Sebelumnya, Menteri pendidikan melalui  Pemerintah Provinsi mendorong kepada SMK yang memiliki teaching factory (TEFA) untuk menerapkan BLUD. Dengan begitu, SMK bisa memiliki pendapatan yang bersumber dari TEFA. 

Dikatakannya, berdasarkan Permendagri nomor 13, di alur keuangan daerah seharusnya pendapatan sekolah selaku UPTD dari Dinas Pendidikan disetorkan dahulu ke kas daerah sebagai penerimaan Pemprov. Namun setelah menjadi BLUD, pendapatan tidak perlu disetorkan ke Kasda melainkan langsung dikelola sendiri karena adanya fleksibiltas pada status BLUD.

"Nantinya, jika sudah berstatus BLUD, kami bisa memasarkan produk kami kepada masyarakat luas dan pendapatan yang diperoleh bisa langsung tersimpan di unit produksi masing-masing jurusan," tandasnya. (TL/Red).

Editor : Amaq Auliya