logo


TGH. Abdul Basith Bak Secercah Cahaya di Ruang Gelap

Berikut penjelasanya
Rabu, 11 Des 2019, 08:38:38, 485 View

TGH. Abdul Basith Bak Secercah Cahaya di Ruang Gelap
Dari kiri, TGH. Asyari QH, TGH Abdul Basith, H. Khairul Rizal berpose usai acara_tajuklombok.com/istimewa

TAJUKLOMBOK. COM - Cicit Pahlawan Nasional TGH. K. H. M. Zainuddin Abdul Majid mulai menebar dakwah kepada masyarakat NW di Lombok Tengah. Sosok Tuan Guru H. Abdul Basith bak secercah cahaya dalam ruang gelap. Di sela-sela menjalankan tugas sebagai penuntut ilmu di Mesir, ia menyisir dusun dan dasan menebar dakwah seperti yang dilakukan pendahulunya, dimana pada hari ini beliau menjadi penceramah di Ponpes Hubbul Jiron Pringgerate, Rabu (11/12).

Beliau menyadari betul bahwa sebagian besar warga yang menjadi basis utama NW adalah masyarakat yang mendiami pedalaman. Oleh karenanya, sebagai cicit dari pendiri organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di NTB, ia berusaha mengembangkan dakwah NW yang sempat redup pasca TGB masuk jajaran pendakwah Nasional. 

Dalam kehidupan setiap orang pasti mempunyai seorang guru. Guru dalam artian adalah sesorang yang memberikan ilmu kepada sang murid dan mendidik sang murid agar lebih baik, demikian TGH. Abdul Basith mengawali ceramahnya. 

"Ada kiasan yang menyebutkan Laulal Murobbi Maa Aroftu Robbi yang artinya tanpa tuntunan guru tak akan ku kenali Tuhanku)", jelas putra dari Wagub NTB tersebut. 

"Disini sudah jelas bahwa peran guru adalah sangat penting dalam kehidupan seseorang", lanjutnya.

Selain itu, ia juga mengupas keutamaan dari berailaturrahim dengan guru, samhabat dan tetangga. 

"Salah satu keutamaan menjalin silaturahim yang sering kali disebutkan dalam majelis-majelis adalah bahwa silaturahim dapat memperpanjang umur dan meluaskan rezeki", ujarnya. 

Dijelaskannya lagi, Sebagaimana dikatakan dalam sebuah hadis, Dari Anas bin Malik ra., ia berkata : Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda : “Barangsiapa yang suka diluaskan rezekinya dan ditangguhkan kematiannya, hendaklah ia menyambung silaturahim” (HR. Bukhari)

Sekilas hadis di atas seakan-akan bertentangan dengan firman Allah Swt yang mengatakan bahwa umur adalah sesuatu yang telah ditetapkan dan tidak bisa diubah.

"Makna ditangguhkan kematiannya itu maklumat, tiang baru berusia 26 tahun. Tapi dengan berailaturrahim ke TGH. Asy'ari yang usianya 45 tahun, tiang dapat menambah ilmu", Tegas Tuan Guru Ajdzi sapaan akrabnya. 

Mengakhiri pengajiannya, TGH. Abdul Basith meminta kepada jamaah untuk terus berpegang teguh terhadap ajaran pendiri NW. 

"Pupuk keyakinan pada apa yang disampaikan Maulanasyaikh" tutupnya. (TL/Red).

Editor : Amaq Auliya