logo


TGH. Yusuf Makmun : Pemuda Adalah Tongkat Penopang, Harus Siap Digunakan Kapanpun

Berikut penjelasanya
393 View

TGH. Yusuf Makmun : Pemuda Adalah Tongkat Penopang, Harus Siap Digunakan Kapanpun
Ketua Umum Rois Aam Dewan Mustasyar PBNW TGH. Yusuf Makmun_dokpri

TAJUKLOMBOK. COM - Suasana Makam Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid Pahlawan Nasional Republik Indonesia asal Lombok NTB tampak biasa. Ada pengunjung namun tidak begitu padat seperti biasanya. Kali ini penulis hadir berziarah bersama rombongan Mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan (HIMMAH NW) Kota Mataram dan beberapa dari unsur PW Pemuda NW NTB.

Rombongan datang dari Mataram menuju Pancor Lombok Timur dengan tujuan untuk berziarah ke Makam Pahlawan Nasional Kyai Hamzanwadi sekaligus Silaturrahim ke Pimpinan Amid Ma'had MDQH NW Pancor (Ketua Umum Rois A'am Dewan Mustasyar PBNW) TGH. Yusuf Makmun. Perjumpaan dengan beliau bagi penulis merupakan hal yang spesial karena dari beliau kita dapat memperoleh ilmu adab dan keberkahan.

Dalam tradisi kaum Nahdiyin seperti Nahdlatul Wathan ziarah makam dan kunjungan silaturrahim kepada sang guru merupakan rutinitas yang biasa dilakukan. Tujuannya hanya satu yakni mencari keberkahan dari sang Guru/Ulama. Pertemuan dengan Amid Ma'had kali ini berlangsung begitu saja tampa ada penjadwalan sebelumnya. Meskipun demikian dalam kesempatan tersebut banyak ilmu dan motivasi perjuangan yang beliau berikan kepada kami kader muda Nahdlatul Wathan.

"Sami'na wa atho'na itu seperti solat berjamaah. Jika imam mulai takbirnya maka makmum pun mengikuti imamnya", ungkap TGH. Yusuf membuka pengajian singkatnya dihadapan kader.

Kalian pemuda lanjut beliau, tidak boleh komen tetapi apa yang diperintahkan oleh pemimpin harus diikuti. Berpendapat, memberi saran itu bagus yang tidak boleh adalah demo, maka jangan ikut-ikutan demo. Dalam NW demo itu diharamkan karena itu merupakan ciri-ciri orang Yahudi, sehingga ummat islam tidak boleh ikut-ikutan. Maulanasyaikh melarang jamaah NW untuk turut demo, sebab rentan sekali demo mengakibatkan anarkis. Lain halnya dengan membela kebenaran, kita Nahdlatul Wathan adalah garda terdepan untuk itu.

Beliau juga mengingatkan bahwa mengikuti hawa nafsu menganggap diri lebih, itu perkara yang tidak boleh. Jangan mengikuti kata orang atau mendengar kata orang tapi dengarkanlah kata imam. Sekarang ini zaman bid'ah sehingga suara yg jauh seperti ada di dekat kita. Tapi hati-hati jangan ikuti kata orang walaupun benar apalagi salah sebab benarnya orang belum tentu benar untuk semua, bisa jadi hanya benar untuk dirinya dan kelompoknya. Sehingga kitapun tidak boleh menyalahkan, jelasnya.

"Yang jelas apapun kebijakan pemerintah itu dilaksanakan sesuai dengan kemampuan. Pemuda jangan ikuti kata orang lain. Kita harus melaksanakan kebijakan pemerintah dan arahan dari pimpinan. Intinya tidak boleh demo jangan seperti "kerbau di cocok hidung". Apalagi saat ini semuanya menggunakan media online segalanya di share tanpa mengetahui makna dan isi dari apa yang di share", ungkap, TGH. Yusuf

Beliau juga mengingatkan terkait dengan situasi saat ini mengenai Narkoba, Radikalisme dan Terorisme, Nahdlatul Wahtan adalah penentang dan pembasmi Narkoba, Radikalisme dan Terorisme namun tentu dengan cara yang baik. Ingat pemuda adalah tongkat yang harus mampu menopang dan siap untuk digunakan kapanpun dibutuhkan oleh organisasi, tegas beliau.

Terakhir beliau mengingatkan kepada kader-kader muda NW bahwa tujuan Badan Otonom sebagai sayap pergerakan Organisasi Induk yakni NW harus senantiasa menjadi pendorong asas pergerakan Pendidikan, Sosial, Dakwah dan Ekonomi Umat. Jangan mudah termakan dengan kenegatifan perkembangan zaman. Berasas kebaikan harus tetap berdiri tegak dengan menyuarakan kebaikan, jelas beliau.

Apalagi dengan maraknya penggunaan sosial media yang mewabah, kemudahan menyebarkan informasi menimbulkan dampak negatif dan positif dari sosial masyarakat. Berita baik dan buruk sama mudahnya untuk di sebarkan. Maka dari itu kita dalam hal ini bertindak sebagai muballigh (penyampai berita kebenaran). Jangan sebarkan yang orang lain atau kita anggap baik, karena belum tentu orang yang akan menerima itu menganggap baik pula. Jadi jika bermanfaat bagi kita, cukuplah untuk kita. Beda orang beda cara menafsirkan, maka berhati-hatilah dalam bersyiar di sosial media, pesan TGH. Yusuf Makmun. (TL/Red).

Oleh : Rahman

Editor : Amaq Auliya