logo


Ummat Islam Harus Peka Atas Penindasan Kepada Buruh

Berikut penjelasanya
238 View

Ummat Islam Harus Peka Atas Penindasan Kepada Buruh
Ilustrasi_foto internet stock

TAJUKLOMBOK. COM - Keberislaman kita hari-hari ini tampaknya perlu didefinisikan ulang. Dimana, seolah-olah urusan Islam itu hanya berkutat pada masalah ibadah semata. Umat Islam hanya asyik dengan ibadah vertikal, namun kurang dengan ibadah horizontal atau sosial.

Tak salah memang, jika umat Islam beribadah secara vertikal kepada Allah SWT. Namun kemudian, persoalan akan timbul ketika yang dikerjakan oleh umat hanya semata-mata urusan ibadah vertikal saja. Padahal, Islam sendiri tak hanya mewajibkan ibadah vertikal, namun Islam juga mendorong umatnya untuk peka terhadap kondisi sosialnya (beribadah melalui jalur sosial).

Melalui corong-corong Masjid, yang menyiarkan khutbah para pendakwah kita sudah sangat populer dengan istilah “Hablum Minallah” dan “Hablum minan-nas”. “Hablum Minallah” merupakan posisi di mana kita sebagai umat Islam senantiasa bertakwa kepada Allah Swt dan menjauhi segala larangan-larangannya. Kemudian, ”Hablum minan-nas” merupakan posisi di mana kita sebagai umat Islam juga harus menjalin relasi kepada sesama manusia.

Dimana, “Hablum minan-nas” secara luas bisa kita maknai sebagai kepedulian umat Islam kepada sesama manusia. Kepedulian kemanusiaan itu berupa kepekaan sosial terhadap kesusahan-kesusahan yang dialami oleh orang-orang sekitar di mana umat Islam itu hidup. Dengan demikian, umat Islam harus memiliki daya kritis terhadap problem-problem sosial yang sedang menindas masyarakat dan kemudian membebaskannya.

Praktik kepekaan umat terhadap ketertindasan, dalam sejarah Islam secara gamblang telah dicontohkan oleh sahabat Rasulullah Saw yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq ketika membebaskan budak bernama Bilal bin Rabah. Dimana, seperti yang terekam dalam lembaran sejarah bahwa Bilal disiksa dengan begitu kejam ketika diketahui memeluk agama Islam. Setelah ia mencurahkan tenaganya untuk melayani tuannya, ia sama sekali tidak pernah digaji. Ibaratnya, Bilal bagi tuannya hanya dianggap sebagai benda yang tak berharga, layaknya hewan peliharaan.

Dari sini, kita sebagai umat Islam dituntut untuk ber-hablum min an-nas sebagaimana suri tauladan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw beserta para sahabatnya, maka saat ini kita diharuskan untuk peka dalam membaca relasi-relasi sosial yang saat ini menindas rakyat.

Jika dulunya Bilal tak diupah oleh majikannya, Penindasan hari ini terhadap Bilal-Bilal lain yang mengalami nasib yang kurang lebih sama. Meskipun bentuknya kini bukanlah perbudakan, namun problem UPAH yang tidak layak masih menjadi PR kita bersama saat ini.

Sebagaimana diketahui, upah buruh saat ini oleh pemerintah diatur melalui apa yang kita kenal dengan UPAH MINIMUM, seperti: UMR, UMK dan UMP. Upah minimum menjadi acuan bagi pengusaha maupun pemerintah untuk memberikan minimal gaji kepada para tenaga kerja maupun karyawan, atau dalam bahasa kasarnya adalah BURUH.

Muncul persoalan kemudian, standarisasi upah minimum ini dianggap terlalu minimal untuk hanya sekedar memenuhi kebutuhan hidup para pekerja. Secara kasar, uang tersebut hanya cukup untuk biaya ngekos dan makan sehari-hari buruh selama sebulan. Jumlahnya tak pernah mencakup kebutuhan sandang, kesehatan, dan pendidikan anak-anak buruh.

Tak cukup sampai disitu, problem ketertindasan kaum buruh yang terbaru nampak pada trend kontrak kerja outsourcing, dimana buruh hanya menjadi pekerja kontrak. Kontrak kerja yang hanya kisaran dua tahunan tersebut menjadikan kaum buruh ini kesulitan mendapatkan pekerjaan baru setelah kontrak kerjanya telah habis dengan perusahaan sebelumnya.

Kontrak kerja outsourcing inilah yang menjadi landasan bagi para pengusaha untuk mengabaikan jaminan kesehatan kepada pekerja. Pekerja hanya dianggap pekerja paruh waktu yang keselamatan jiwanya tak dijamin oleh perusahaan. Padahal, pekerjaan para buruh ini adalah pekerjaan yang penuh resiko karena bersentuhan langsung dengan zat kimia berbahaya dan mesin-mesin produksi.

Buruh semakin tercekik dengn disahkannya Undang-undang Cipta Kerja atau Omnibus Law. Melalui Omnibus Law, bahkan buruh tak hanya bisa dipekerjakan secara outsourcing, namun buruh juga dapat dipekerjakan secara harian ataupun secara pengupahan tak ada lagi standarisasi upah minimum. Jadi, jika semasa adanya upah minimum saja tak dapat mencukupi kebutuhan hidup, apalagi jika itu dihapuskan. Sungguh sangat memprihatinkan!

Dari potret ketertindasan kaum buruh yang sedemikian memprihatinkan tersebut, umat Islam nampaknya harus menambah medan JIHADNYA. Jika sebelumnya, umat Islam hanya semata beribadah Mahdhah, kini saatnya umat Islam juga harus melaksanakan ibadah Ghairu Mahdhah dalam bentuk memperjuangkan hak-hak buruh.

Terlebih lagi pada momen hari buruh sedunia seperti saat ini, keberpihakan umat Islam kepada kaum buruh sangat dibutuhkan, yakni turut membela kepentingan-kepentingan kaum buruh tersebut. Ibaratnya, pada hari buruh kali ini kita sedang turut memperingati peristiwa pembebasan Bilal bin Rabah, terlebih saat ini kita berada di Bulan Suci Ramadhan, bulan puasa yang salah satu manfaatnya adalah peka terhadap kondisi sosial. Tunduk tertindas atau bangkit melawan! (TL/Red).

Editor : Amaq Auliya